- Insiden pemudik yang tersesat di area persawahan di Sleman memicu keputusan penghapusan rute alternatif menuju Gerbang Tol Purwomartani dari aplikasi navigasi.
- Pihak kepolisian dan pengelola jalan tol mengimbau pengendara untuk tetap mengikuti rambu penunjuk jalan fisik demi menghindari jalur sempit yang berbahaya.
Evaluasi Navigasi Digital Jalur Alternatif Menuju Gerbang Tol Purwomartani
Insiden mencengangkan menimpa sejumlah pemudik yang tengah menempuh perjalanan menuju arah timur melalui wilayah Yogyakarta. Beberapa kendaraan dilaporkan tersesat hingga masuk ke jalanan sempit di tengah area persawahan di wilayah Sleman, Rabu (25/3/2026).
Baca Juga: Dari Blitar Berprestasi, Kini Muklisin Buka Babak Baru Kolaborasi di Banyuwangi
Peristiwa ini terjadi setelah para pengendara mengandalkan aplikasi navigasi digital untuk mencari jalur alternatif menuju Gerbang Tol (GT) Purwomartani yang merupakan akses fungsional Tol Jogja-Solo pada musim mudik Lebaran 1447 Hijriah.
Menanggapi kejadian yang viral di media sosial tersebut, pihak kepolisian bersama pengelola jalan tol segera mengambil langkah tegas. Rute alternatif yang sebelumnya terbaca oleh sistem navigasi menuju GT Purwomartani kini resmi dihapus dari peta digital seperti Google Maps dan Waze.
Baca Juga: Otoritas Pajak Bidik Sepuluh Korporasi Sawit Kakap Terkait Indikasi Manipulasi Setoran Negara
Keputusan ini diambil guna mencegah jatuhnya korban lebih lanjut akibat kondisi jalan pedesaan yang tidak memadai untuk volume kendaraan pemudik.
Kasat Lantas Polresta Sleman, Kompol Meiky Wahyudi, menjelaskan bahwa jalur-jalur tikus yang disarankan oleh aplikasi navigasi seringkali melewati pemukiman padat atau jalan tani yang sangat sempit.
Baca Juga: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Tegaskan Integritas, Hindari Korupsi dan Fokus Reformasi
“Banyak pemudik yang diarahkan oleh Google Maps melalui jalur yang sebenarnya tidak layak untuk kendaraan roda empat, terutama saat berpapasan. Oleh karena itu, koordinasi dengan penyedia layanan peta digital telah dilakukan untuk menghapus rute-rute menyesatkan tersebut,” tegasnya saat meninjau arus lalu lintas di Purwomartani.
Kondisi GT Purwomartani yang saat ini berstatus fungsional memang menjadi magnet bagi pemudik yang ingin menghindari kemacetan di jalur utama Solo-Yogyakarta.
Namun, antusiasme ini seringkali berujung petaka ketika pengemudi terlalu percaya pada teknologi tanpa memperhatikan rambu-rambu resmi di lapangan. Beberapa kendaraan dilaporkan terjebak di bahu jalan sawah yang lembek, sehingga memerlukan bantuan warga sekitar untuk evakuasi.
Pihak pengelola jalan tol, PT Jasamarga Jogja Solo (JMJS), juga menegaskan bahwa akses menuju jalan tol fungsional seharusnya melalui jalur utama yang telah disiapkan dan dijaga oleh petugas.
Penghapusan rute di aplikasi navigasi diharapkan dapat memaksa pemudik kembali ke jalur utama yang lebih aman dan terukur secara kapasitas beban jalan.
Sebagai langkah antisipasi lanjutan, petugas gabungan telah menambah papan penunjuk jalan manual di titik-titik krusial menuju Purwomartani. Para pemudik kini diminta untuk lebih teliti dan mengutamakan instruksi dari petugas di lapangan daripada sekadar mengikuti arahan suara dari ponsel.
“Instruksi kami jelas, ikuti rambu kuning bertuliskan rute tol fungsional. Jangan ambil risiko masuk ke jalan desa hanya demi memotong waktu beberapa menit,” tambah Kompol Meiky.
Hingga berita ini diturunkan, arus lalu lintas di sekitar akses fungsional Tol Jogja-Solo terpantau padat namun tetap terkendali. Petugas tetap berjaga di persimpangan menuju jalur-jalur kecil untuk mengarahkan kembali pemudik yang masih mencoba mencari jalan pintas.












