Example floating
Example floating
Birokrasi

Prabowo Pilih Kasih Makan Rakyat Daripada Biarkan Uang Negara Dikorupsi

A. Daroini
×

Prabowo Pilih Kasih Makan Rakyat Daripada Biarkan Uang Negara Dikorupsi

Sebarkan artikel ini
Prabowo Pilih Kasih Makan Rakyat Daripada Biarkan Uang Negara Dikorupsi
  • Strategi nasional ini dicanangkan untuk memutus rantai kemiskinan dan memperbaiki gizi buruk pada anak-anak Indonesia.
  • Presiden optimis program pangan gratis mampu menggerakkan roda ekonomi bawah melalui penciptaan jutaan lapangan kerja baru.
  • Program Makan Gratis Jadi Solusi Tekan Korupsi Anggaran

    Komitmen Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki babak baru yang lebih tegas.

    Di hadapan para tokoh dan jurnalis di kediamannya, Hambalang, Bogor, Sabtu (21/3), Presiden melayangkan pernyataan tajam mengenai arah kebijakan fiskalnya.

    Baca Juga: H+2 Lebaran, Meski Ramai dan Padat Situasi Jalan Doho Termasuk Stasiun KA Kediri Tetap Lancar, Begini Penjelasan Polisi

    Ia menegaskan bahwa mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan pangan rakyat jauh lebih mulia dan produktif ketimbang membiarkan dana negara habis tersedot oleh praktik korupsi yang selama ini menghambat kemajuan bangsa.

    Narasi besar yang diusung Presiden bukan sekadar retorika politik, melainkan sebuah respons emosional sekaligus rasional terhadap realita lapangan. “Iya, saya akan bertahan sedapat mungkin. Daripada uang-uang dikorupsi, lebih baik rakyat saya bisa makan,” ujar Prabowo Subianto.

    Baca Juga: Sukseskan Program KDMP dan KKMP, Dandim 0809/Kediri Undang Silaturahmi LSM dan Wartawan

    Pilihan ini diambil sebagai bentuk pertahanan negara dalam menjaga kualitas sumber daya manusia (SDM) masa depan, yang saat ini masih dibayangi oleh tingginya angka stunting.

    Presiden menceritakan pengalaman pahitnya saat turun ke desa-desa selama masa kampanye. Ia menemukan fakta memprihatinkan di mana pertumbuhan fisik anak-anak Indonesia tidak sesuai dengan usia mereka akibat kekurangan gizi menahun.

    Baca Juga: Respon Aduan Masyarakat, Saluran Irigasi di Kelurahan Ngampel Sepanjang 115 Meter Langsung Direhab Pemkot Kediri

    “Anda enggak lihat anak-anak yang stunting? Saya lihat. Saya kampanye sekian kali, saya di desa-desa, saya lihat. Umurmu berapa? 11 tahun. Badannya anak 4 tahun. Saya yakin saya berada di jalan yang benar. Uang kita ada,” ucapnya dengan penuh keyakinan.

    Secara teknis, Program MBG dirancang untuk menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang masif. Prabowo menargetkan pembangunan hingga 31.000 unit dapur umum di seluruh pelosok negeri. Hitungan kasarnya, jika satu dapur mampu menyerap 50 tenaga kerja, maka akan tersedia 1,5 juta lapangan kerja langsung.

    Tak berhenti di situ, efek domino ekonomi akan menyentuh sektor agrikultur karena setiap dapur diprediksi membutuhkan 5 hingga 10 vendor pemasok bahan baku.

    “Tiap dapur menciptakan vendor-vendor supplier antara 5-10 vendor tiap dapur… tiap vendor ini empiris mempekerjakan sekitar 5 petani. Jadi itu sudah berapa? Sudah 50 lagi. Another 1,5 juta orang kerja,” kata Prabowo mendetailkan potensi penyerapan tenaga kerja yang bisa mencapai total 3 juta orang dari hulu hingga hilir.

    Namun, ketegasan juga ditunjukkan dalam sisi operasional. Presiden mengakui adanya evaluasi besar-besaran terhadap dapur-dapur yang tidak beroperasi sesuai standar kualitas yang ditetapkan. Hingga saat ini, lebih dari seribu unit dapur telah ditutup paksa oleh pemerintah sebagai bentuk penertiban.

    Langkah ini dilakukan agar setiap rupiah yang dikeluarkan negara benar-benar sampai ke mulut rakyat dalam bentuk makanan bergizi, bukan bocor di tengah jalan.

    Mengenai kekhawatiran publik soal beban utang, Prabowo memberikan jaminan bahwa pendanaan program ini mengandalkan efisiensi internal. Strateginya adalah melakukan reorganisasi anggaran dan menutup celah kebocoran keuangan negara secara sistemik.

    “Uang kita ada. Tinggal kita organisir, kita kurangi kebocoran,” tuturnya. Menurut Presiden, kebijakan ini adalah cara paling adil agar masyarakat kelas bawah yang sudah terlalu lama terpinggirkan bisa kembali menikmati hasil pertumbuhan ekonomi nasional secara langsung dan nyata.