Garut, Memo – Sebuah kabar mengejutkan datang dari sebuah desa di lereng Gunung Cikurai, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kepala desa setempat, Haji Ujang Suhendar (57), mendadak menjadi perbincangan hangat setelah mengumumkan pernikahannya dengan tujuh orang janda sekaligus. Keputusan tak lazim ini sontak membuat gempar warga Desa Cikurai Girang.
Kabar yang awalnya dianggap sebagai isu liar menjelang pemilihan kepala desa itu ternyata benar adanya. Haji Ujang secara resmi mengumumkan pernikahannya dalam sebuah rapat desa. Dengan nada tulus, ia menjelaskan bahwa keputusannya menikahi tujuh janda tersebut bukan didasari oleh nafsu semata, melainkan oleh panggilan hati dan tanggung jawab sosial terhadap warganya.
Baca Juga: Dari Blitar Berprestasi, Kini Muklisin Buka Babak Baru Kolaborasi di Banyuwangi
Ketujuh wanita yang dinikahi Haji Ujang bukanlah sosok sembarangan. Mereka adalah para janda di desa tersebut yang mengalami kesulitan hidup setelah ditinggal oleh suami mereka. Di antaranya adalah Bu Rosma, seorang ibu dengan lima anak yang ditinggal suaminya akibat kecelakaan saat panen padi. Ada pula Bu Amah, yang suaminya meninggal karena diabetes dan meninggalkan warung kecil yang terancam bangkrut. Selain itu, terdapat Bu Iis, mantan guru PAUD yang ditinggal pergi suaminya, serta empat janda lainnya yang memiliki kisah pilu masing-masing.
Haji Ujang mengaku merasa terpanggil untuk membantu para janda ini. Sebelumnya, ia memang dikenal sering memberikan santunan, memperbaiki rumah mereka yang rusak, dan membantu biaya pendidikan anak-anak mereka. Namun, ia menyadari bahwa para janda tersebut juga hidup dalam stigma dan gunjingan masyarakat.
Baca Juga: Otoritas Pajak Bidik Sepuluh Korporasi Sawit Kakap Terkait Indikasi Manipulasi Setoran Negara
Maka, dalam musyawarah bersama tokoh agama dan tokoh adat desa, Haji Ujang mengusulkan ide yang tak biasa: menikahi mereka semua. “Kuring te hayang ngarugi keun maranehna. Lamun nikah bisa nyalamet keun martabatna, maka kuring siap,” ujarnya dalam bahasa Sunda, yang berarti “Saya tidak ingin merugikan mereka. Jika menikah bisa menyelamatkan martabat mereka, maka saya siap.”
Pernikahan tersebut dilangsungkan secara sederhana tanpa pesta mewah, namun penuh dengan suasana haru. Para istri tinggal di rumah yang berbeda-beda, dan Haji Ujang berusaha membagi waktu serta perhatiannya secara adil. Anehnya, tidak ada rasa cemburu di antara para istri. Mereka justru membentuk kelompok koperasi janda, mengembangkan usaha kuliner, dan mengelola ladang bersama.
Baca Juga: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Tegaskan Integritas, Hindari Korupsi dan Fokus Reformasi
Awalnya, banyak cibiran yang datang dari berbagai pihak. Namun, seiring berjalannya waktu, ketika masyarakat melihat kebahagiaan para janda, anak-anak mereka yang kembali bersekolah, dan kondisi ekonomi mereka yang membaik, cibiran itu perlahan berubah menjadi rasa hormat.
Kisah unik ini bahkan menarik perhatian media nasional. Sebuah stasiun televisi swasta membuat liputan dengan judul “Pak Kades Poligami: Kontroversi atau Solusi Sosial?”. Video tersebut kemudian viral dan menjadikan Haji Ujang sebagai pembicara di berbagai forum diskusi tentang pernikahan sosial. Meski tak sedikit hujatan yang diterimanya, Haji Ujang tetap tenang. “Biarkan waktu yang bicara. Saya tidak ingin dipuji. Saya hanya ingin desa ini damai dan perempuan tidak hidup dalam air mata,” tuturnya.
Keputusan Haji Ujang ini ternyata telah melalui pertimbangan matang bersama para tokoh adat dan agama desa. Dalam sebuah pertemuan malam hari di saung belakang rumahnya, Haji Ujang mengungkapkan niat tulusnya untuk membantu para janda dan anak-anak mereka agar memiliki kehidupan yang lebih baik dan terhormat.
Meskipun sempat menimbulkan perdebatan mengenai keabsahan dan etika poligami, para tokoh desa akhirnya menyetujui pernikahan tersebut dengan syarat semua janda setuju tanpa paksaan dan keluarga mereka memberikan restu. Setelah melalui proses musyawarah dan persetujuan dari para janda, pernikahan tersebut akhirnya terlaksana.
Kisah Haji Ujang menikahi tujuh janda ini menjadi fenomena yang menarik perhatian publik. Di tengah kontroversi yang ada, banyak pihak yang melihat tindakan kepala desa ini sebagai solusi sosial yang inovatif untuk membantu para perempuan yang terpinggirkan dan memberikan harapan baru bagi masa depan mereka dan anak-anaknya.












