MEMO – Lembaga Administrasi Negara (LAN) resmi merilis laporan Indonesia Leadership Outlook 2025, yang mengungkap tujuh tantangan utama yang akan dihadapi pemimpin di tahun 2025. Laporan ini berdasarkan hasil survei nasional, yang menyoroti integritas dan korupsi, transformasi digital, ekonomi, sumber daya manusia, globalisasi, lingkungan, serta workplace behaviour.
Dari ketujuh isu tersebut, tiga tantangan utama yang paling menjadi perhatian para pemimpin adalah:
Baca Juga: TMMD ke-127 Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Pemkab Kediri Juga Bekali Warga Olahan Ikan Lele
Integritas dan korupsi
Transformasi digital
Ketidakpastian ekonomi global
“Korupsi masih menjadi ancaman serius yang dapat melemahkan pembangunan nasional. Meskipun berbagai kebijakan telah diterapkan, stagnasi Indeks Persepsi Korupsi menunjukkan perlunya strategi yang lebih inovatif,” ujar Kepala LAN, Dr. Muhammad Taufiq, DEA, dalam acara Launching Indonesia Leadership Outlook 2025, Kamis (13/2).
Selain itu, tantangan di sektor teknologi dan digitalisasi juga menjadi perhatian. Kesenjangan infrastruktur, keterbatasan talenta digital, dan kualitas layanan teknologi yang belum optimal masih menjadi hambatan besar dalam proses transformasi digital di Indonesia.
Di sisi ekonomi, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen, tetapi stagnasi ekonomi global serta faktor internal seperti defisit anggaran, menurunnya daya beli masyarakat, dan meningkatnya angka pengangguran menjadi tantangan yang harus dihadapi.
LAN juga mengungkap lima keterampilan utama yang harus dimiliki pemimpin di era modern, yaitu:
Berpikir strategis dalam merancang kebijakan
Menjaga integritas dan transparansi
Mampu berkolaborasi lintas sektor
Adaptif terhadap perubahan global
Kepemimpinan digital yang kuat
“Kemampuan ini akan menjadi kunci bagi pemimpin dalam menciptakan kebijakan yang solutif dan inovatif,” tambah Taufiq.
Menurut Ketua Komite Tetap Pemberdayaan Ekonomi Digital KADIN, Helmi Balfas, kepemimpinan digital adalah faktor penting dalam mendorong inovasi di sektor publik. Transformasi digital tidak hanya berarti mengadopsi teknologi baru, tetapi juga mengubah pola pikir agar lebih inovatif dan agile.
Terdapat tiga pilar utama dalam transformasi digital:
Pemanfaatan big data untuk pengambilan keputusan yang lebih akurat
Kolaborasi lintas sektor dan kementerian
Penguatan kompetensi digital untuk menciptakan talenta digital baru
“Transformasi digital yang berhasil tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga mengubah cara berpikir birokrat dan pelaku usaha agar lebih inovatif,” jelas Helmi.
Deputi Bidang Materi Komunikasi dan Informasi, Muhammad Isra Ramli, menegaskan bahwa tahun 2025 adalah momen pembuktian kepemimpinan baru di Indonesia.
Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto ingin melepaskan Indonesia dari jebakan middle income trap dengan efisiensi birokrasi dan reformasi tata kelola pemerintahan.
“Selama ini, publik menilai birokrasi terlalu boros dan tidak optimal dalam melayani masyarakat. Kebijakan efisiensi ini diharapkan membuat instansi pemerintah lebih selektif dalam penggunaan anggaran dan lebih fokus pada pelayanan publik,” ujarnya.
Di akhir acara, Isra menegaskan bahwa sinergi lintas sektor antara pemerintah, swasta, akademisi, dan komunitas masyarakat akan menjadi kunci keberhasilan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.












