MEMO, Surabaya: Pentingnya memahami dampak konsumsi kopi pada atlet profesional tidak bisa dianggap remeh.
Kopi, meskipun dapat menjadi pembangkit tenaga saat melaksanakan aktivitas olahraga, memiliki risiko potensial jika tidak dikonsumsi dengan bijaksana.
Atlet perlu memahami persyaratan khusus terkait kadar kafein dalam kopi dan batas yang diizinkan untuk menghindari risiko doping.
Kopi dalam Olahraga: Efek Energi Tambahan dan Batas Kafein yang Diperbolehkan
Minum secangkir kopi dapat memberikan energi tambahan saat melakukan aktivitas olahraga. Namun, perlu diwaspadai jika dikonsumsi oleh atlet profesional, karena kadar kafein dalam kopi yang melebihi batas yang diperbolehkan dapat dianggap sebagai bentuk doping.
Menurut Gatot S. Dewa Broto, Ketua Umum Indonesia Anti Doping Indonesia (IADO), pada hari Rabu (5/7/2023), sejak tahun 2005, kopi bukan lagi dianggap sebagai doping, tetapi ada persyaratan khusus yang harus dipenuhi.
Sejarah Status Doping Kopi: Perubahan Regulasi sejak Tahun 2005
“Dahulu, sebelum tahun 2005, kopi termasuk dalam kategori doping. Namun, mulai tahun 2005, kopi bukan lagi dianggap doping, namun ada persyaratan tertentu yang harus dipenuhi. Jika kadar kafein terlalu tinggi, kemungkinan besar dapat dianggap sebagai doping,” jelas Gatot S. Dewa Broto.
“Orang memang membutuhkan kopi untuk menjaga kesehatan tubuh dan agar tidak mengantuk. Namun, jika kandungan kafeinnya terlalu tinggi, ada kemungkinan terkena doping. Hal ini di luar batas penalaran yang wajar, terutama jika kopi yang dikonsumsi sangat pekat,” tambahnya.
Gatot S. Dewa Broto menyatakan bahwa benar adanya efek tambahan energi setelah meminum kopi. Namun, hal ini hanya berlaku jika kafein dalam secangkir kopi masih dalam takaran yang wajar dan belum dapat dikategorikan sebagai doping. (OA)
Dalam artikel ini, telah dibahas tentang perubahan status kopi sebagai doping sejak tahun 2005. Gatot S. Dewa Broto, Ketua Umum Indonesia Anti Doping Indonesia (IADO), menjelaskan bahwa kopi tidak lagi dianggap doping, tetapi tetap ada syarat yang harus dipenuhi terkait kadar kafein.
Meskipun meminum kopi dapat memberikan energi tambahan, atlet harus memastikan takaran yang wajar agar kopi tidak dikategorikan sebagai doping.
Pemahaman yang baik tentang risiko potensial dan persyaratan khusus ini penting bagi atlet profesional dalam menjaga performa mereka dengan adil dan menghindari pelanggaran doping.
Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini












