Example floating
Example floating
Metropolis

Jika Hari Ini Ada bayi Lahir, Sudah Menanggung utang Negara Sebanyak 16 Juta

A. Daroini
×

Jika Hari Ini Ada bayi Lahir, Sudah Menanggung utang Negara Sebanyak 16 Juta

Sebarkan artikel ini

Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) mencatat tiap rakyat Indonesia termasuk bayi, harus menanggung beban utang sebesar Rp16 juta.

Baca Juga: H+2 Lebaran 1447H/ 2026 M, Volume Penumpang di Wilayah Daop 7 Madiun Pecah Rekor Capai Puluhan Ribu

“Perhitungan ini didapat dari jumlah utang kita yang sudah mencapai Rp4.274 triliun dibagi dengan jumlah penduduk Indonesia sekarang sebanyak 257 juta orang,” kata Ketua Umum AKSES, Suroto di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kondisi itu, kata dia, bisa membahayakan ekonomi Indonesia secara umum karena struktur ekonominya hingga kini masih didominasi pelaku usaha besar. Dicontohkan, hanya 0,02% penduduk Indonesia yang menguasai Rp3.100 triliun, atau setara 25% total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Baca Juga: Cek Fakta Ramai Soal THR ASN Tahun 2026 Cair Awal Ramadhan Begini Kata Pemkab Lumajang Untuk Berikan Kepastian Bagi Pegawai

“Kenapa ini sangat berbahaya? Sebab perilaku orang kaya di Indonesia itu suka menumpuk hartanya di luar negeri, namun meninggalkan utang di dalam negeri ketika terjadi krisis ekonomi,” kata Suroto.

Terlebih ia menilai banyak infrastruktur yang dibangun saat ini cenderung difungsikan untuk mendorong faktor “endorsement” bagi kelancaran investasi asing di Indonesia. “Padahal kita tahu mereka itu hanya ingin mengeksploitasi sumber daya alam kita dan hanya satu tanggung jawabnya, keuntungan,” kata Suroto.

Baca Juga: Dukung Kreativitas Reses di Dinoyo Sekolahan DPRD Surabaya Sosialisasikan Program Intervensi Gen Z Rp5 Juta Per RW Tahun 2026

Suroto menambahkan, investor yang ada cenderung memilih masuk ke sektor komoditas ekstraktif dan menguasai sektor tertier terutama perbankan. “Sementara sektor pangan dan energi kita tetap akan mereka kendalikan. Kita disandera agar tetap sebagai pasar,” kata Suroto.

Sementara Amerika Serikat sudah mengirimkan sinyalemen untuk segera merevisi kebijakan moneter mereka membuat celah investor masuk ke Indonesia jadi semakin kecil, kata Suroto.