BLITAR, Memo.co.id – Harapan keluarga Endang Susilowati (39), Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Blitar, untuk membawa pulang jenazahnya sempat kandas akibat biaya pemulangan yang mencapai Rp150 juta. Namun, di tengah keputusan berat untuk merelakan Endang dimakamkan di Turki, solidaritas sesama warga Indonesia di perantauan mengubah keadaan.
Endang akhirnya bisa kembali ke kampung halaman setelah Masyarakat Indonesia Istanbul (MII) bersama Paguyuban Jegeg Bagus Bali menggalang donasi untuk menanggung biaya pemulangan jenazahnya.
Kisah itu bermula pada Senin (19/10/2026), ketika keluarga di Dusun Sanan, Desa Gondang, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, menerima kabar Endang meninggal dunia di Istanbul, Turki, setelah menjalani perawatan akibat penyakit kanker payudara dan paru-paru stadium akhir.
Joko Pramono, kerabat dekat keluarga, mengatakan keputusan membawa jenazah pulang semula menjadi pilihan utama. Namun, keluarga harus menghadapi kenyataan bahwa biaya pemulangan dari Turki diperkirakan mencapai Rp150 juta.
Pihak hotel tempat Endang bekerja disebut bersedia membantu separuh biaya tersebut. Meski demikian, sisa biaya yang harus ditanggung keluarga masih terlalu berat.
“Kesepakatan yang awalnya dibawa pulang akhirnya berubah, biarlah dimakamkan di Turki,” kata Joko, Kamis malam (22/10/2026).
Keluarga pun mulai mengurus administrasi pemakaman di Turki. Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan kemampuan finansial keluarga, termasuk anak-anak dan kerabat yang ditinggalkan.
Namun, ketika keluarga tengah menyiapkan dokumen, sebuah panggilan telepon dari Turki membawa kabar berbeda.
Perwakilan Masyarakat Indonesia Istanbul yang dipimpin Sari Rusmiati dan Paguyuban Jegeg Bagus Bali di bawah pimpinan Ni Made Trisnawati menyampaikan bahwa mereka telah menggalang dana untuk memulangkan jenazah Endang.
Dalam waktu 48 jam, donasi yang terkumpul mencukupi kebutuhan biaya pemulangan. Keluarga yang sebelumnya telah merelakan Endang dimakamkan di negara tempatnya bekerja kembali mengurus proses pemulangan.
“Pada saat yang sama itu tiba-tiba ada telepon dari Turki,” ujar Joko, mengenang perubahan keputusan keluarga.
Dari Istanbul, Jenazah Endang Kembali ke Blitar
Setelah kebutuhan biaya terpenuhi, proses pemulangan jenazah berlangsung relatif cepat. Jenazah Endang diterbangkan menggunakan Turkish Airlines dari Bandara Internasional Istanbul menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.
Setibanya di Indonesia, ambulans yang disiapkan BP2MI membawa jenazah ke rumah duka di Kabupaten Blitar.
Kedatangan Endang disambut tangis kedua orang tuanya, Mulkardji dan Mulsiah. Setelah perjalanan panjang dari Turki, jenazah akhirnya dapat dimakamkan di kampung halaman pada Kamis (22/10/2026).
Winarno, kakak kandung Endang, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu. Bagi keluarga, bantuan tersebut bukan sekadar menutup kebutuhan biaya, melainkan juga memberi kesempatan untuk mengantarkan Endang ke peristirahatan terakhir di tanah kelahirannya.
“Kami tidak mampu membalas satu per satu ketulusan Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian. Terima kasih sebesar-besarnya atas pengorbanan waktu dan tenaganya,” tutur Winarno.
Endang diketahui merupakan ibu dari tiga anak yang telah bekerja selama empat tahun di salah satu hotel di Turki. Ia berangkat sebagai PMI legal melalui jalur mandiri.
Sebelum meninggal dunia, Endang menjalani perawatan selama 10 hari di Özel Avcılar Anadolu Hastanesi, Avcılar, Istanbul. Ia dirawat akibat kanker payudara dan paru-paru yang telah mencapai stadium akhir.
Di tengah duka keluarga, kepulangan Endang menjadi bukti bahwa jarak negara dan beratnya biaya tidak selalu memutus ikatan kemanusiaan. Bantuan para diaspora membuat keluarga yang sempat kehilangan harapan akhirnya bisa mengantarkan Endang pulang












