Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Jatim

Potret Ketegaran Warga Pacitan Tinggal di Kandang Kambing Selama Belasan Tahun

A. Daroini
×

Potret Ketegaran Warga Pacitan Tinggal di Kandang Kambing Selama Belasan Tahun

Sebarkan artikel ini
pacitan

Memo, Pacitan — Pawito (58), seorang pria sebatang kara asal RT 01 RW 08 Dusun Joso Kidul, Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, terpaksa bertahan hidup di gubuk berukuran 3×4 meter yang menyatu langsung dengan kandang ternak di tengah kebun kakao sejak pulang dari perantauan pada 2012 lalu.

Kondisi hunian yang jauh dari kata layak ini membuat Pawito harus tidur di lantai atas berdinding bambu dan terpal tepat di atas kawanan kambing, serta berdampingan dengan ayam peliharaannya.

Tanpa adanya fasilitas kamar mandi pribadi, tempat tinggal beratap genteng tersebut kerap mengalami kebocoran dan terpaan angin kencang saat musim hujan tiba[cite: 3]. Untuk kebutuhan penerangan dasar, ia mengandalkan saluran listrik yang ditumpang dari rumah tetangga sekitar.

“Kalau kelahiran memang di sini. Cuman dulu merantau, habis itu mulai tahun 2012 saya ke sini, pulang,” kata Pawito saat menceritakan kisah hidupnya di Dusun Joso Kidul.

Di tempat tidur yang beralaskan kasur tipis itu, ia bahkan terbiasa berbagi ruang dengan ayam betina yang sedang mengerami telur.

“Sedang angkrem (mengerami telur). Mau dipindah kan masih angkrem. Enggak tahu dulunya aku di situ, jadi nggak bisa mindah,” ujarnya polos.

Untuk menyambung hidup sehari-hari, pria berusia 58 tahun ini secara telaten menggembala dan merawat sekitar 9 hingga 10 ekor kambing milik sendiri[cite: 3]. Kehidupan yang memprihatinkan namun dipenuhi ketegaran ini lantas memantik kepedulian dari aksi sosial gabungan relawan Petarung Kehidupan Pacitan dan komunitas RAPI.

Perwakilan relawan Petarung Kehidupan Pacitan, Susilo Dwi Santoso, menyatakan bahwa pihaknya mendatangi lokasi secara langsung untuk menyalurkan bantuan hasil penggalangan donatur sekaligus mendorong perhatian pemerintah setempat.

“Kami mendapatkan informasi kondisi Mbah Pawito. Ternyata benar adanya, hidupnya memprihatinkan. Namun, dia sosok yang tegar dan pantang menyerah,” ungkap Susilo Dwi Santoso.

Para relawan berharap potret keterbatasan yang dialami Pawito mendapat penanganan berkelanjutan dari pihak terkait agar ia dapat memperoleh hunian yang lebih aman, higienis, dan layak huni di masa tuanya.