Example floating
Example floating
Peristiwa

64 Santri Dinyatakan Meninggal, Basarnas Pertanggungjawabkan Operasi SAR Internasional di Hari Kedelapan

A. Daroini
×

64 Santri Dinyatakan Meninggal, Basarnas Pertanggungjawabkan Operasi SAR Internasional di Hari Kedelapan

Sebarkan artikel ini
64 Santri Dinyatakan Meninggal, Basarnas Pertanggungjawabkan Operasi SAR Internasional di Hari Kedelapan

Sidoarjo, Memo

Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo mencapai titik krusial pada Senin, 6 Oktober 2025, menandai hari kedelapan upaya evakuasi.

Baca Juga: Misteri Kematian Bocah di Sukabumi Dugaan Kekerasan Ibu Tiri Hingga Proses Hukum

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) selaku Koordinator SAR, mengumumkan hasil akhir yang memilukan: total 169 korban berhasil dievakuasi, dengan 64 orang dinyatakan meninggal dunia dan 104 orang berhasil diselamatkan.

Bencana yang terjadi secara mendadak pada 29 September saat para santri sedang melaksanakan salat tersebut, kini telah dikategorikan sebagai bencana nasional atas instruksi Presiden, memaksa tim gabungan dari 65 instansi bekerja ekstra keras di tengah tantangan struktur runtuhan yang ekstrem.

Baca Juga: Duka Mendalam Bocah 8 Tahun Di Sampang Ditemukan Meninggal Di Bawah Jembatan Usai Dilaporkan Hilang Oleh Pihak Keluarga

Analisis Keruntuhan dan Strategi Cut and Pick Up

Bencana ini segera dideklarasikan sebagai kasus darurat yang luar biasa. Basarnas, yang dalam operasi ini bersinergi dengan BNPB, TNI, Polri, dan BPBD, menjelaskan bahwa kompleksitas reruntuhan menjadi tantangan utama.

Bangunan empat lantai tersebut mengalami keruntuhan total, di mana semua lantai “benar-benar menyatu,” sehingga tim menyatakan jenis reruntuhannya sebagai “pancake collapse”.

Baca Juga: Duka Bencana Petang Di Kepuhkembeng Jombang Puting Beliung Rusak Rumah Musala Dan Warung Kopi Hingga Warga Alami Trauma

Menghadapi struktur yang rumit dan padat tersebut, pengambilan keputusan tidak dilakukan secara gegabah. Kepala Basarnas menegaskan bahwa tindakan mereka mengacu pada standar internasional: “Apapun yang kita lakukan ini termonitor di internasional,” ujarnya, merujuk pada keanggotaan Indonesia di International Search and Rescue (Insarak).

Oleh karena itu, langkah yang diambil harus mengikuti “Insarak guidelines,” dan bukan sekadar menuruti desakan publik untuk bertindak cepat.

Strategi yang digunakan adalah membuat lubang akses dari bawah ke atas dan menggunakan alat berat terpilih. Operasi ini secara hati-hati menerapkan metode “cut and pick up,” yakni memotong bagian struktur reruntuhan yang masih terkoneksi dengan bangunan di sebelahnya, lalu mengangkatnya dengan aman.

Langkah ini, yang disupervisi oleh tenaga ahli dari ITS, dilakukan untuk memastikan korban dievakuasi dalam kondisi utuh dan tidak menyebabkan dampak lebih lanjut pada bangunan sekitar. “Keren kita memiliki kemampuan tidak lebih dari 5 ton,” jelas Kepala Basarnas, menegaskan bahwa setiap material yang diangkat harus terukur dan “tidak lebih dari 5 ton.”

Mengatasi Kritik dan Beban Moral Tim SAR

Meskipun 91 orang telah berhasil diselamatkan secara mandiri pada hari pertama, Basarnas harus menghadapi kritik dan tekanan publik yang menyebut operasi berjalan lambat, terutama dari pihak keluarga korban.

Kepala Basarnas menyampaikan pemahaman penuh terhadap perasaan tersebut, namun ia membela profesionalisme timnya.

“Saya selaku Kepala Badan SAR Nasional sangat paham terhadap perasaan itu,” katanya, tetapi menegaskan bahwa operasi yang dilaksanakan “bisa saya pertanggungjawabkan baik secara nasional maupun internasional”.

Ia menolak anggapan tim hanya bekerja manual, menekankan bahwa Basarnas menggunakan peralatan standar internasional dan tidak bertindak berdasarkan emosi. “Kita ini sebenarnya punya ilmu,” ujarnya, menggarisbawahi pentingnya ilmu pengetahuan dalam setiap tindakan penyelamatan.

Beban moral yang dipikul tim penyelamat juga terasa berat. “Kalau ada yang jeli melihat ekspresi mereka, lelah. Ekspresinya mereka seolah-olah gontai,” ungkap Kepala Basarnas, saat tim gabungan sempat tidak menemukan temuan baru. Kondisi ini memperlihatkan bahwa di balik profesionalisme tinggi, ada unsur kemanusiaan yang menjadi motivasi utama mereka.

Body Part dan Akhir dari Fase Search and Rescue

Terkait temuan enam body part dalam total korban, Basarnas meminta media dan masyarakat untuk tidak memperdebatkannya. “Body part itu sebenarnya secara tidak langsung itu terbagi menjadi… dikatakan body kalau misalkan ada di pangkal paha sampai ke atas sampai ke leher, tapi dikatakan part kalau itu misalkan oh potongan tangan, potongan kaki,” jelasnya, merujuk pada protokol Insarak.

DVI (Disaster Victim Identification) akan bertanggung jawab untuk mengonfirmasi identitas korban dari temuan tersebut.

Kepala Basarnas juga mengoreksi miskonsepsi mengenai perpanjangan operasi. Ia menjelaskan bahwa meskipun operasi mandiri Basarnas normalnya berakhir dalam 7 hari, karena kejadian ini merupakan operasi khusus dan dikategorikan bencana nasional, operasi SAR akan dinyatakan selesai hanya “setelah benar-benar kita clear terhadap lokasi kejadian,” dan dipastikan tidak ada korban lagi di reruntuhan.

Setelah fase search and rescue ini tuntas, kegiatan penanganan akan dilanjutkan oleh BNPB dan kementerian terkait.