Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Blitar

40 Hari Wafat Guruh Soekarnoputra, Kader PDIP Blitar Kenang Perjuangan Lewat Doa Bersama

Prawoto Sadewo
×

40 Hari Wafat Guruh Soekarnoputra, Kader PDIP Blitar Kenang Perjuangan Lewat Doa Bersama

Sebarkan artikel ini
IMG 20261105 WA0023

BLITAR, MEMO.CO.ID – Kepergian Guruh Soekarnoputra tidak serta-merta menghapus jejak perjuangan dan kenangan yang ditinggalkannya. Empat puluh hari setelah wafatnya tokoh yang dikenal dekat dengan kader PDI Perjuangan tersebut, ingatan tentang pengabdian dan kiprahnya kembali dihidupkan melalui doa bersama di Kabupaten Blitar.

 

Puluhan kader DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar bersama masyarakat menggelar tahlil dan doa bersama untuk mendoakan almarhum. Kegiatan berlangsung khidmat di Wisma Aspirasi milik Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar, Supriadi, yang akrab disapa Kuwat.

 

Sejumlah pengurus dan kader partai berlambang banteng moncong putih itu turut hadir. Di antaranya Didik dari jajaran pengurus DPD PDI Perjuangan, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar Guntur Wahono, Sekretaris DPC Supriadi, serta sejumlah pengurus dan kader lainnya.

 

Lantunan tahlil, tahmid, dan doa yang dipanjatkan menjadi ungkapan duka sekaligus penghormatan atas perjalanan hidup almarhum. Momentum 40 hari wafatnya Guruh juga menjadi ruang bagi para kader untuk kembali mengingat nilai-nilai perjuangan yang pernah ditanamkan.

 

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar, Guntur Wahono, mengatakan kepergian Guruh meninggalkan kehilangan mendalam bagi keluarga besar partai. Menurutnya, almarhum merupakan sosok yang memiliki tempat tersendiri di hati para kader.

 

Baginya, kehilangan seorang tokoh bukan sekadar berakhirnya kebersamaan secara fisik. Lebih dari itu, ada nilai pengabdian, pengalaman, dan keteladanan yang harus terus dijaga oleh mereka yang masih melanjutkan perjuangan organisasi.

 

“Genap 40 hari wafatnya tokoh panutan kami. Semoga arwah beliau diterima di sisi kemuliaan Allah SWT. Seluruh kebajikannya mendapatkan balasan dan kelapangan, sedangkan segala kekhilafannya mendapatkan ampunan dan maghfirah dari Allah SWT,” ujar Guntur.

 

Ia berharap doa bersama tersebut tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada almarhum, tetapi juga mempererat kebersamaan antarkader.

 

Menurutnya, semangat perjuangan yang pernah ditunjukkan Guruh hendaknya menjadi pengingat bagi seluruh kader agar tetap menjaga soliditas, kesetiaan terhadap nilai-nilai perjuangan, serta konsistensi dalam menjalankan tugas organisasi.

 

Ungkapan kehilangan serupa disampaikan Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar, Supriadi atau yang akrab disapa Kuwat. Ia mengaku memiliki banyak kenangan bersama Guruh, terutama dalam perjalanan dan dinamika perjuangan politik kader PDI Perjuangan di wilayah Blitar Raya.

 

“Kami sangat kehilangan Mas Guruh. Beliau memiliki banyak kenangan bersama para kader PDI Perjuangan, khususnya di Blitar Raya. Perjuangan dan pengabdian beliau menjadi inspirasi bagi kami untuk terus melanjutkan apa yang telah dirintis,” ungkap Supriadi.

 

Ia menegaskan, kepergian Guruh tidak boleh membuat semangat perjuangan para kader ikut surut. Justru, nilai-nilai positif yang pernah dicontohkan almarhum harus menjadi warisan moral yang terus dirawat dalam kehidupan berorganisasi maupun ketika berinteraksi dengan masyarakat.

 

“Harapan kami, apa yang pernah diperjuangkan Mas Guruh tidak berhenti menjadi cerita dan kenangan. Semangat, kebersamaan, serta nilai pengabdiannya harus terus diteruskan oleh generasi kader berikutnya. Kami ingin perjuangan itu tetap hidup melalui kerja nyata dan kebermanfaatan bagi masyarakat,” imbuhnya.

 

Bagi keluarga besar PDI Perjuangan Kabupaten Blitar, doa bersama tersebut memiliki makna lebih dari sekadar peringatan 40 hari wafatnya seorang tokoh. Ada pesan tentang pentingnya menghargai perjalanan pengabdian seseorang, sekaligus menjaga kesinambungan perjuangan lintas generasi.

 

Dalam kehidupan organisasi, pergantian waktu dan kepemimpinan merupakan hal yang tidak terhindarkan. Namun, nilai perjuangan tidak semestinya ikut hilang ketika sosok yang pernah menjadi bagian dari perjalanan itu telah tiada.

 

Karena itu, penghormatan terbaik kepada seseorang yang telah berpulang bukan hanya melalui doa dan kenangan, melainkan juga dengan meneruskan nilai-nilai baik yang pernah ditinggalkannya.

 

Doa bersama tersebut pun ditutup dengan harapan agar almarhum Guruh Soekarno Putro mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Sementara bagi para kader yang ditinggalkan, momentum ini menjadi pengingat bahwa perjuangan harus terus berjalan, dengan menjaga persaudaraan, kebersamaan, dan pengabdian kepada masyarakat.