Surabaua, Memo
Atmosfer sakral yang menyelimuti persiapan keberangkatan calon jamaah haji di Embarkasi Surabaya mendadak terusik oleh perilaku tak lazim. Bukan persoalan administrasi yang menghambat, melainkan gejolak batin dua sesepuh asal Jember yang secara tak terduga memilih arah yang berlawanan dengan Tanah Suci: kembali ke kampung halaman.
Kisah pertama terukir pada senja Sabtu (10/5), tatkala seorang hamba Allah berusia senja, Ahmad Sadin (90 tahun), tiba-tiba membelokkan kompas niatnya. Belum lagi kakinya menginjak tangga pesawat, keinginan untuk mudik menyeruak begitu kuat hingga ia menerjang pintu utama asrama. Terobosannya membuat barikade petugas kewalahan, ekspresi wajahnya menggambarkan kerinduan mendalam, dan suaranya lantang menyerukan, “Aku kangen omah! Mulih! Mulih!”
Baca Juga: Surabaya Terapkan Jam Malam Anak Demi Generasi Berakhlak Mulia
Aparat berseragam TNI, Polri, dan petugas keamanan asrama dibuat kelimpungan. Semangat kakek ini seolah mengalahkan usianya, energinya bagai pemuda belia. Meski telah diupayakan penenangan dengan digotong beramai-ramai, kegigihannya tak surut, terus berteriak, bahkan sempat memicu kesiagaan ambulans seolah terjadi situasi genting seorang kepala negara.
Sang pendamping hidup, Jumanti, hanya mampu menggelengkan kepala, air mata tertahan di pelupuk mata. “Waktu awal keberangkatan, beliau tampak bugar, antusias sekali. Sungguh tak disangka, tiba-tiba hasrat pulang begitu kuat. Padahal, penantian untuk berhaji ini sudah selama tiga belas tahun,” tuturnya dengan nada pilu dan kebingungan.
Baca Juga: Jeritan Tak Terbayar Rp100 Ribu, Kisah Pilu KDRT di Surabaya yang Tersorot Kamera
Belum reda keheranan atas insiden pertama, pagi Ahad (11/5) kembali tersaji kejadian serupa. Kali ini datang dari lansia bernama Enjo Endin Parmo (70 tahun), yang akrab disapa Mbah Enjo. Reaksinya tidak histeris, namun alasannya untuk kembali ke Jember memiliki logika yang sederhana namun mengena:
“Lemuku durung dipakani! Lha terus sing ngopeni nek aku wis adoh nang Mekkah?” (Sapi-sapiku belum diberi makan! Lalu siapa yang akan merawatnya kalau aku sudah jauh di Mekkah?), ujar Mbah Enjo dengan kepolosan seorang petani.
Baca Juga: Duka Haji 2025, Embarkasi Surabaya Catat Angka Kematian Tertinggi, 43 Orang, Besuk Datang












