Soleni sendiri membenarkan keterangan para tetangganya seperti itu. Menurutnya rumahnya disurvey pamong tidak hanya sekali. ” Kulo nrimo kahanan mas,” ucap Soleni dengan nada rendah.

Baca Juga: Jelang Lebaran, 86 Lansia Miskin Di Kampungbaru Terima Bansos SARMUKO Dari TP - PKK Kabupaten
Ditanya keinginanya, Soleni menjawab pasrah. Dibantu monggo tidak dibantu gak papa. Yang penting dirinya dan anak anaknya selalu diberi kesehatan.
Realita berbanding terbalik. Pasalnya di daerah yang gencar menyuarakan slogan ” Nganjuk Melesat ” tapi ternyata belum sepenuhnya tercover secara merata. Khususnya untuk sektor pengentasan kemiskinan di daerah pedesaan.
Baca Juga: Pengaburan Status Jalan Umum Di Desa Betet Akhirnya Terkuak, Begini Reaksi Warga......
Terbukti, dengan kondisi status ekonomi Soleni laki laki buruh tani yang hidup dibawah garis kemiskinan ekstrem ini sampai saat ini belum berubah.

Baca Juga: Safari Kemanusiaan AWN Belum Berakhir, Hari Ini Bagikan Santunan Untuk 20 Yatim Piatu Di Brebek
Bisa dibilang rumah Soleni tidak ubahnya seperti kebanyakan tumah di jaman sebelum Indonesia merdeka. Atau mengingatkan kita ketika masih menjadi negara jajahan oleh negara sekutu asing waktu itu.
Bisa digambarkan sekilas, kontruksi rumah Soleni berukuran kecil berlantai tanah, berdinding anyaman bambu yang sudah rapuh karena dimakan usia, juga terkesan kumuh tdan idak memiliki perabotan.
Tidurnya beralaskan kasur usang yang sudah menjamur. Melihat itu, AWN bersama donatur menyumbang satu buah kasur busa diberikan langsung kepada adik Sandra
Dipelukan hangat Ketua AWN Nganjuk, Puguh Santoso, anak bungsu Soleni ini tidak bisa berkata sepatah kata apapun, hanya linangan air mata jatuh ke lantai tanah rumahnya tanda rasa syukur yang tak terkira. ( Adi )












