Sementara itu, penulis buku Tuan Guru Bajang dan COVID-19 Febrian Putra mengatakan, buku yang ditulis ini berisi pandangan-pandangan Ketua Umum PB NWDI seputar COVID-19.
Di awal pandemi muncul, terjadi beragam pandangan yang menyeret antara agama dan kesehatan. “Muncul narasi-narasi yang membenturkan antara hasil medis dengan agama. Disini beliau (TGB) memberikan panduan dari sisi agama,” katanya.
Dia mencontohkan, ketika awal pembatasan, masjid ditutup, Salat Jumat ditiadakan, kemudian pasar dibuka. Hingga sampai proses vaksinasi.
“Ada noise (dengung) yang dilempar ke ruang publik bahwa salat jamaah tak boleh ditinggalkan. Masjid ditutup kok pasar dibuka. Sampai soal vaksin itu haram,” terangnya.
“Nah, Bapak TGB memberikan pemahaman, seperti ini lho panduan agamanya. Dan begitu pula ulama ahlusunnah wal jamaah lainnya berpandangan yang sama,” sambungnya.
Baca Juga: Jelang Munas X LDII April 2025, Menteri Fadli Zon Minta LDII Perkuat Kebudayaan
Febri menambahkan, dia sendiri terinspirasi pada buku Flu Spanyol yang berisi tentang kisah flu yang merajalela 100 tahun lalu.
“Bila bicara siklus, pandemi dunia ini terjadi 100 tahun sekali. Jika dulu riuh tentang penanganan, di era sekarang seolah membenturkan pandangan keagamaan,” tutupnya.
Baca Juga: H+2 Lebaran 1447H/ 2026 M, Volume Penumpang di Wilayah Daop 7 Madiun Pecah Rekor Capai Puluhan Ribu












