Kediri, Memo
Di tengah tantangan pengelolaan sampah di banyak desa, TPS Paron tampil sebagai solusi yang efisien, rapi, dan minim gangguan bagi masyarakat. Berlokasi di ujung area persawahan, TPS ini memanfaatkan posisi strategis untuk menghindari dampak langsung seperti bau dan limbah ke pemukiman.
Baca Juga: Misteri Kematian Bocah di Sukabumi Dugaan Kekerasan Ibu Tiri Hingga Proses Hukum
Sejak dibangun tahun 2017 oleh Pemerintah Desa Paron dengan dukungan dari provinsi, pengelolaan TPS diserahkan kepada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Tugas mereka meliputi pemilahan sampah, pengangkutan, dan pengawasan kebersihan area.
Salah satu kelebihan TPS ini adalah sistem pemilahan sejak awal. Sampah yang masuk langsung disortir menjadi organik dan anorganik. Barang-barang seperti botol, plastik, dan kardus dijual untuk membantu pembiayaan operasional.
“Kami bekerja dari pagi sampai siang, setiap hari kecuali hari Minggu. Petugas di sini ada lima orang, semuanya dari warga sekitar,” kata Bu Sripda, ketua pengelola TPS yang ditunjuk sejak 2019.
Pengangkutan sampah ke TPA Seroto dilakukan rutin sebanyak tiga kali seminggu. Aktivitas ini membantu menghindari penumpukan dan meminimalisir bau.
Selain warga Desa Paron, beberapa warga dari desa tetangga juga turut membuang sampah ke TPS ini. Untuk warga luar desa, ada kontribusi biaya sebagai bentuk partisipasi dalam mendukung kebersihan lingkungan bersama.
Dengan sistem kerja yang tertata dan lokasi yang tidak mengganggu, TPS Paron dianggap berhasil menghadirkan fasilitas publik yang efektif, berkelanjutan, dan menjunjung partisipasi masyarakat.












