Example floating
Example floating
Tekno Digi

Tesla Batal Bangun Pabrik di Thailand: Mengapa Indonesia Ketinggalan?

Alfi Fida
×

Tesla Batal Bangun Pabrik di Thailand: Mengapa Indonesia Ketinggalan?

Sebarkan artikel ini
Tesla Batal Bangun Pabrik di Thailand: Mengapa Indonesia Ketinggalan?
Tesla Batal Bangun Pabrik di Thailand: Mengapa Indonesia Ketinggalan?

MEMO

Tesla, perusahaan mobil listrik milik Elon Musk, memutuskan untuk membatalkan rencana pembangunan pabrik di Thailand dan mengalihkan fokusnya ke pengembangan infrastruktur pengisian daya untuk kendaraan listrik. Keputusan ini mirip dengan nasib investasi Tesla di Indonesia yang juga mengalami kegagalan. Meskipun Tesla menunjukkan minat pada Indonesia sejak akhir 2020, hingga kini perusahaan tersebut belum juga merealisasikan rencana investasinya, sementara negara tetangga seperti Malaysia malah mendapatkan kesempatan tersebut.

Baca Juga: Indonesia Tegaskan Komitmen di Deklarasi Digital ASEAN: Masa Depan Ekonomi Digital Triliunan USD

Prioritaskan Infrastruktur Daya daripada Pabrik

Perusahaan mobil listrik yang dimiliki oleh Elon Musk, Tesla, memutuskan untuk membatalkan rencana pembangunan pabrik di Thailand. Keputusan ini mengingatkan kita pada situasi yang terjadi di Indonesia. Tesla kini mengalihkan fokusnya dari pembangunan pabrik menjadi perluasan jaringan pengisian daya untuk kendaraan listrik (EV). Langkah ini diambil setelah adanya diskusi antara Tesla dan pemerintah Thailand pada bulan November 2023.

Sebelumnya, ada wacana bahwa Tesla akan melakukan investasi sebesar US$5 miliar untuk mendirikan fasilitas produksi di Thailand. Namun, keputusan terakhir menunjukkan bahwa Tesla memilih untuk mengembangkan infrastruktur pengisian daya ketimbang mendirikan pabrik di negara tersebut, seperti yang dilaporkan pada Kamis, 22 Agustus 2024.

Baca Juga: Menteri Koperasi Teten Masduki Ungkap Risiko Temu pada UMKM

Tesla diketahui lebih memprioritaskan pembangunan fasilitas produksi di negara-negara seperti China, Amerika Serikat (AS), dan Jerman. Di negara-negara berkembang, Tesla memilih untuk berinvestasi dalam pengembangan infrastruktur pengisian daya.

Di sisi lain, Tesla telah menunjukkan ketertarikan untuk berinvestasi di Indonesia sejak akhir tahun 2020. Sayangnya, minat tersebut tidak pernah terwujud. Pada tahun 2021, terdengar kabar bahwa investasi Tesla di Indonesia batal dan perusahaan tersebut lebih memilih untuk berinvestasi di India.

Baca Juga: H+2 Lebaran 1447H/ 2026 M, Volume Penumpang di Wilayah Daop 7 Madiun Pecah Rekor Capai Puluhan Ribu

Namun, kabar ini seolah dibantah pada tahun berikutnya. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, mengungkapkan bahwa pada Maret 2022, Tesla kembali menunjukkan minat untuk berinvestasi di Indonesia. “Tadi pagi saya ditelepon dari Amerika, Tesla bilang dia mau bikin deal sama kita,” ujar Luhut saat itu.

Luhut juga menyampaikan rasa frustrasinya terhadap Elon Musk yang dianggapnya bermain-main dengan Indonesia. Menurutnya, meskipun perusahaan telah berkomunikasi selama dua tahun, tampaknya semua itu hanya omong kosong belaka. “Semua mau mendikte. Saya bilang: hey you can not do this, saya bilang sama dia: Today is different. Kita harus sama. Saya bilang kamu nggak bisa begitu lagi. ‘This country is not banana republic’. ‘This country is a great country’,” kata Luhut.

Namun, hingga tahun 2023, Tesla belum juga hadir di Indonesia dan malah memilih untuk membuka kantor di Malaysia. Negara tetangga itu juga mengizinkan Tesla untuk mengimpor produknya, serta merencanakan pembukaan showroom, pusat layanan, dan jaringan supercharger.

Meski demikian, Luhut tetap optimis bahwa Tesla pada akhirnya akan berinvestasi di Indonesia. Namun, pada tahun 2024, bukan Tesla yang beroperasi di Indonesia melainkan Starlink, perusahaan layanan internet berbasis satelit. Starlink mampu memasuki pasar Indonesia hanya dengan investasi miliaran rupiah dan sejumlah pegawai yang relatif sedikit.

Strategi Investasi Tesla yang Berubah

Tesla telah memutuskan untuk mengalihkan fokusnya dari pembangunan pabrik di Thailand ke pengembangan infrastruktur pengisian daya. Langkah ini diambil setelah adanya pembicaraan dengan pemerintah Thailand pada November 2023, yang sebelumnya menyarankan investasi senilai US$5 miliar untuk pabrik. Keputusan ini mencerminkan perubahan strategi Tesla dalam memprioritaskan pengembangan jaringan pengisian daya di negara-negara berkembang.