Tama menjelaskan, populasi ayam saat ini mencapai sekitar 300 ribu ekor dan pengelolaan limbah dilakukan secara bertahap. Kotoran ayam dikeluarkan setiap dua hari sekali dengan volume sekitar satu truk per pengeluaran.
Limbah padat dikeringkan terlebih dahulu sebelum diolah kembali menjadi bahan baku pupuk.
Baca Juga: SPPG Tlumpu Disorot, Menu MBG di SMAN 1 Kota Blitar Dinilai Tak Layak, IPAL Bermasalah
“Bentuknya seperti bubuk kopi setelah dikeringkan. Nanti kami olah lagi menjadi bahan baku pupuk karena masih perlu campuran dan formula,” paparnya.
Luas total area peternakan disebut mencapai 5,7 hektare, dengan sebagian area difungsikan sebagai ruang terbuka hijau.
Baca Juga: Era Digital dan Tantangan Akurasi, Jairi Irawan Gelar Diskusi Bersama Jurnalis Blitar
CV Bumi Indah menyatakan komitmen untuk terus melakukan perbaikan. Setelah seluruh peralatan siap dan formula pengolahan limbah disempurnakan, pihaknya berjanji akan mengundang warga untuk uji coba bersama.
“Kalau alat sudah siap semua, warga akan kami undang untuk ikut melihat langsung. Kami ingin memastikan baunya bisa diminimalkan,” tegasnya.
Baca Juga: Retribusi atau Pungli? Jalur Perbatasan Blitar–Malang Disorot
Terkait komunikasi lanjutan dengan warga, Tama menyebut belum ada pertemuan kembali, namun pihaknya fokus pada pemenuhan tuntutan utama masyarakat.
“Tuntutan warga tidak ada bau. Aktivitas pengolahan yang memicu bau sudah kami hentikan sementara,” pungkasnya.
Sementara itu, warga sebelumnya menyatakan ancamannya untuk menutup akses menuju kandang jika keluhan tak ditindaklanjuti. Pemerintah Kabupaten Blitar hingga kini masih belum menyampaikan sikap resmi atas persoalan tersebut. **












