Sementara pada hari Senin hingga Jumat, Bapak Achmad hanya berjualan dari pukul 15.00 hingga 18.00 WIB. Ia tidak menetap di SLG, karena pada pagi hari ia berdagang di tempat lain, seperti Gurah atau terkadang di Ngrancangan.
Dagangan yang dibawa pun menyesuaikan kondisi. Di luar akhir pekan, ia hanya membawa sekitar 3–4 kilogram buah seperti matoa, jambu, dan sawo. “Sekarang pembeli agak berkurang, beda sama dulu. Tapi tetap saya jalani,” ujarnya.
Bapak Achmad mengandalkan keramaian pengunjung SLG saat akhir pekan sebagai sumber utama pendapatannya. Meski penghasilan cenderung menurun, ia tetap bertahan demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.












