Namun, posisi sebagai “orang kepercayaan” ini kini membawa konsekuensi yang cukup berat. Seiring dengan langkah KomiKomisi Pemberantasan Korupsi (KPK)g sedang mendalami dugaan praktik rasuah di lingkungan Pemerintah Kota Madiun, nama Rochim ikut terseret dalam radar pemeriksaan.
Integritas sistem “pintu satu” yang ia jalankan selama ini mulai dipertanyakan oleh publik. Apakah kedekatan tersebut murni untuk efisiensi birokrasi, atau justru menjadi instrumen untuk memuluskan kepentingan tertentu yang kini berujung pada masalah hukum?
Baca Juga: Kecelakaan Tragis di Lokasi Bencana Longsor, Dua Polisi Terhimpit Truk Militer
Fenomena keberadaan “tangan kanan” seperti Rochim sebenarnya bukan hal baru dalam politik lokal di Indonesia. Namun, kasus di Madiun ini memberikan gambaran jelas bagaimana kekuasaan informal dapat tumbuh subur di samping struktur resmi pemerintah.
Loyalitas tanpa batas yang ditunjukkan Rochim kepada Maidi menjadikannya sebagai benteng pertahanan terakhir sekaligus titik yang paling rentan dalam sebuah lingkaran kekuasaan.
Baca Juga: Terdakwa Kasus Minyak Goreng Curhat Rumah Tangga Retak Akibat Pertanyaan Penyidik Kejagung
Paragraf penutup ini menegaskan bahwa proses hukum terhadap lingkaran dalam kekuasaan Madiun masih terus berkembang. Publik kini menanti transparansi dari pihak berwenang mengenai sejauh mana keterlibatan sosok-sosok di balik layar ini dalam pengambilan keputusan yang merugikan keuangan negara.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada bagaimana kesaksian Rochim dan kawan-kawan dapat mengungkap tabir gelap di balik manajemen pemerintahan yang selama ini tampak berkilau di permukaan.
Baca Juga: Fakta Unik Greenland Yang Pernah Ingin Dibeli Donald Trump Sangat Menakjubkan












