Trenggalek, Memo |
Di sebuah dusun yang tenang di lereng Trenggalek, tepatnya di Dusun Wadi Lor, Desa Ngadirenggo, Kecamatan Pogalan, bersemayamlah kearifan lokal yang melegenda. Namanya Mbah Jio, atau yang dikenal luas sebagai Mujiono, seorang pria berusia 71 tahun yang tangannya seolah dianugerahi kekuatan penyembuh.
Dengan metode sangkal putung tradisional, ia telah menjadi harapan bagi ratusan, bahkan ribuan, orang yang didera nyeri akibat keseleo hingga patah tulang. Yang lebih istimewa: semua ini dilakukan tanpa biaya, tanpa operasi, hanya bermodal keikhlasan.
Sejak dekade 1980-an, aroma minyak urut dan bisikan doa telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rumah sederhana Mbah Jio. Di sanalah ia membuka praktik pijat dan urut khusus untuk penanganan tulang. Ia tak pernah menetapkan tarif, sebuah prinsip yang ia pegang teguh sejak awal.
“Saya tidak mau meminta ongkos dari pasien, mulai dari yang keseleo hingga yang pupus tulangnya, semua sama seikhlasnya saja. Tapi saya selalu berpesan untuk kembali kemari bagi pasien yang penyembuhannya belum selesai,” tutur Mbah Jio, dengan sorot mata teduh yang memancarkan ketulusan.
Baca Juga: Trenggalek Perkuat Inklusi, HLUN 2025 Soroti Kesejahteraan Disabilitas dan Lansia
Antrean Harapan dari Berbagai Penjuru
Rumah Mbah Jio di RT 21 RW 9 Desa Ngadirenggo seolah menjadi magnet. Pasien berdatangan dari berbagai penjuru, tak hanya dari Trenggalek dan daerah sekitarnya seperti Ponorogo, Madiun, atau Ngawi, melainkan juga dari kota-kota metropolitan jauh seperti Jakarta. Mereka rela menempuh perjalanan panjang, membawa serta rasa sakit dan harapan akan kesembuhan di tangan Mbah Jio.
Baca Juga: Sorotan DPRD Trenggalek Anggaran TPP ASN Lebih Besar dari PAD Murni
Praktik Mbah Jio dibuka setiap hari pada dua sesi waktu: sore hari dari pukul 15.00–17.00 WIB, dan dilanjutkan lagi pada malam hari dari pukul 20.00–22.00 WIB. Meskipun terkesan singkat, dalam rentang waktu tersebut, ia mampu melayani hingga 30 pasien lebih.
“Saya buka itu tidak lama, dari jam 3 sore sampai jam 5, lalu kembali buka di jam 8 sampai 10 malam. Begitupun sudah bisa tangani 30 pasien lebih,” ujarnya, menggambarkan ritme kesibukannya.
Ada satu hal yang membedakan Mbah Jio dari praktisi lain: ia tak pernah memungut bayaran dari pasien yang berasal dari pesantren. Kebijakan ini adalah bentuk penghormatan dan pengabdiannya kepada almamater spiritualnya, mendiang KH Ahmad Djazuli Utsman, pendiri Pondok Pesantren Ploso, Kediri. Sebuah sentuhan spiritual yang mengakar kuat dalam setiap layanannya.
Kesembuhan Instan dan Senyum Lega
Di ruang praktiknya yang jauh dari kesan modern, pasien datang dengan raut muka tegang, menahan sakit yang tak tertahankan. Proses pengobatan yang dilakukan Mbah Jio terbilang cepat dan seringkali menghasilkan kelegaan yang instan.
Ada yang hanya perlu dipijat lembut, sebagian lain cukup diarahkan bagaimana memijat sendiri di rumah. Momen paling mengharukan adalah ketika pasien yang tadinya datang dengan wajah muram, keluar dari ruang praktik dengan senyum lega dan langkah yang lebih ringan, seolah beban sakit telah terangkat.
Salah satu yang merasakan langsung keajaiban tangan Mbah Jio adalah Yuli (57), warga Desa Sukosari, Kecamatan Trenggalek. Ia sempat menderita nyeri lutut yang tak kunjung teratasi meski sudah berobat medis. Akhirnya, ia mencoba jalur pengobatan alternatif.
“Ternyata sampai sini kata Mbah Jio tulang saya ada yang sedikit bergeser. Ya, kalau sudah tua gini ada saja keluhannya,” ucap Yuli, merasa masalahnya akhirnya ditemukan dan diatasi.
Di tengah gempuran teknologi medis dan obat-obatan modern, keberadaan Mbah Jio dan praktik sangkal putungnya menjadi pengingat akan kekuatan pengobatan tradisional.
Keikhlasan, pengalaman bertahun-tahun, dan sentuhan tulus Mbah Jio telah menciptakan jembatan kepercayaan yang kokoh di hati masyarakat. Ia bukan sekadar penyembuh tulang, tetapi juga penjaga kearifan lokal yang terus menghadirkan harapan di Dusun Wadi Lor, Trenggalek.












