NGANJUK, MEMO – Perebutan kursi direktur utama ( Dirut) di Perusahaan Daerah Aneka Usaha ( PDAU) Nganjuk tergolong ketat.
Dari dua kandidat yang dinyatakan lolos assesment kompetensi seleksi calon direksi PDAU yaitu Deny Ismiyanti dan Djoko Widijantoro bisa dibilang sama sama berbobot.
Baca Juga: Pengaburan Status Jalan Umum Di Desa Betet Akhirnya Terkuak, Begini Reaksi Warga......
Pasalnya kedua kontestan tersebut memiliki latar belakang ( basic ) status profesi yang berpengaruh di perjalanan pemerintahan Kabupaten Nganjuk.
Desy Ismiyanti dikalangan internal PDAU adalah figur perempuan yang bisa menduduki jabatan strategis sebagai direktur operasional. Jabatan itu dipegangnya sejak November 2021 sampai sekarang belum tergeser.
Baca Juga: Safari Kemanusiaan AWN Belum Berakhir, Hari Ini Bagikan Santunan Untuk 20 Yatim Piatu Di Brebek

Selain itu, karena kekosongan jabatan di struktur PDAU terhitung sejak mantan Dirut PDAU ,Jaya tersandung perkara pidana, akhirnya Deny merangkap semua jabatan sebagai Plt. Mulai Plt dirut PDAU, Plt dirut keuangan juga merangkap jabatan definitif sebagai direktur operasional.
Baca Juga: Team Baksos AWN Jadi Burbershop Dadakan, Tiga ODGJ Jalanan Dicukur Rapi
Sementara Djoko Widijantoro dikenal didunia politik adalah sosok politikus senior dari Partai Amanat Nasional ( PAN).
Dan lebih istimewanya lagi, laki laki paroh baya yang memiliki style energik dan familiar itu juga pernah menjabat sebagai anggota DPRD Nganjuk selama dua periode.
Awal karirnya terpilih sebagai wakil rakyat dimulai periode pertama pada tahun 2009 – 2014. Dan lolos lagi memasuki periode ke dua di tahun 2014 – 2019.

Dari pengakuan Djoko Widijantoro selama dua periode dirinya mengabdi jadi wakil rakyat ,tujuh tahun pernah menjadi anggota komisi A yang membidangi hukum dan pemerintahan. Diteruskan tiga tahun berikutnya bergeser masuk anggota komisi C yang membidangi pembangunan.
10 tahun perjalanan politik Djoko Widijantoro atau akrab disapa Djoko Ong sempat mengukir prestasi dan menjadi catatan bersejarah di kalangan guru TK swasta se Kabupaten Nganjuk.
Itu terjadi pada periode pertama , laki laki yang suka berpenampilan mbois dan low profil itu berhasil memperjuangkan nasib para guru TK seantero Nganjuk. Yaitu mampu memperjuangkan SK sertifikasi guru TK swasta dari Kemendikbud Ristek.

Dari sekilas latar belakang dua kandidat tersebut tampaknya memantik perhatian publik. Artinya pihak panitia seleksi ( pansel) dari Unesa Surabaya sebagai pihak ketiga dalam pelaksanaan assessment seleksi ini harus benar benar obyektif. ” Karena keduanya memiliki andil besar dalam membangun Nganjuk,” ucap nara sumber memo.co.id.
Untuk diketahui, tahapan assessment kompetensi peserta calon direksi PDAU memasuki tahap final yaitu tes wawancara yang dilaksanakan di gedung lantai dua ruang Candi Lor Pemkab Nganjuk pada hari ini ( Selasa,22/07/2025).
Usai mengikuti tes wawancara , kedua kandidat berhasil dikonfirmasi wartawan memo.co.id . Keduanya memiliki sudut pandang berbeda untuk kemajuan PDAU ke depan.
Untuk Deny Ismiyanti jika terpilih menjadi direktur utama PDAU akan konsentrasi menata manajemen internal PDAU ( SOP). Sementara Djoko Widijantoro memiliki skedul program lebih komplek. Yaitu tiga gerakan revolusi. Diantaranya revolusi SDM, revolusi management dan revolusi pengembangan usaha.

Pemikiran Djoko seperti itu menurutnya karena kondisi real management PDAU dinilai bobrok. Karena dari tiga Perumda dibawah pengawasan dan pembiayaan APBD Kabupaten Nganjuk yaitu PDAM Tirta Wilis, BPR Anjuk Ladang dan PDAU yang mengalami mati suri adalah PDAU.
” Suntikan anggaran milyaran ke PDAU real tidak bisa berkembang, justru mengalami defisit besar. Beberapa bidang usaha yang dikelola PDAU seperti apotik, hotel dan perkebunan tak mampu mendongkrak PAD. Ini butuh direvolusi total ,” ucap Djoko.
Diinformasikan juga, yang terlibat dalam tahap final tes wawancara selain pansel dari Unesa Surabaya , juga terlibat Bupati dan Wakil Bupati Nganjuk ( Marhaen Jumadi – Handy) ikut menseleksi jalannya tes wawancara.(adi)












