Perdagangan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan pelemahannya akan berlanjut sepanjang hari ini. Mengutip kurs tengah Bank Indonesia (BI) saat ini posisi rupiah berada di level Rp 14.325 per dolar AS.
Analis keuangan Ariston Tjendra mengatakan, tekanan mungkin berlanjut terhadap rupiah hari ini seiring dengan semakin tingginya yield obligasi pemerintah AS. Yield tenor 10 tahun sudah menyentuh 1,88 persen, level tertinggi dalam 2 tahun.
Baca Juga: Kejutan Juli Dana Triliunan Rupiah Siap Guyur Lembaga Investasi BPI Danantara
“Antisipasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan AS telah mendorong yield obligasi pemerintah AS terus naik,” kata Ariston sebagaimana dikutip dari JawaPos.com, Rabu (19/1).
Ariston memaparkan, penurunan besar indeks saham AS semalam juga menambah sentimen negatif untuk aset berisiko hari ini, termasuk rupiah.
Baca Juga: Layanan e-Buzz Rupiah Digital, BRI Sambut Langkah Suci Jemaah Jawa Timur
Selain itu, Ariston menambahkan, harga minyak yang tinggi yang kini berada di kisaran USD 86 per barel juga bisa menekan rupiah karena bisa menurunkan surplus neraca perdagangan Indonesia dimana Indonesia adalah net importir minyak.
“Rupiah mungkin bisa tertekan ke arah 14.360-14.380 hari ini dengan potensi support di kisaran 14.320,” pungkasnya.
Baca Juga: Investor Asing Panik! Pasar Keuangan Indonesia Bergejolak di Agustus!












