Example floating
Example floating
BLITAR

Rencana Pembangunan Pasar Legi Picu Kemarahan Pedagang, Wali Kota Blitar Dituding Arogan

Prawoto Sadewo
×

Rencana Pembangunan Pasar Legi Picu Kemarahan Pedagang, Wali Kota Blitar Dituding Arogan

Sebarkan artikel ini
Perwakilan para pedagang Pasar Legi

Blitar, Memo.co.id

Rencana Pemerintah Kota Blitar untuk merehabilitasi Pasar Legi menuai penolakan keras dari puluhan pedagang. Mereka menilai Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, bersikap arogan karena dinilai tidak pernah melakukan koordinasi ataupun sosialisasi sebelum merencanakan pembangunan tersebut.

Baca Juga: Ratusan Warga 212 Datangi Kantor Kecamatan Rejotangan, Tuntut Perbaikan Jalan Rusak

Ketegangan ini mencuat setelah para pedagang mengetahui rencana perombakan total Pasar Legi justru dari pemberitaan media, bukan melalui pertemuan resmi. Para pedagang merasa diabaikan dan khawatir kehilangan tempat usaha yang telah mereka tempati selama bertahun-tahun.

“Walikotanya terkesan arogan, tidak mau koordinasi dengan para pedagang terkait rencana rehabilitasi pasar,” ungkap Arief, salah satu pedagang Pasar Legi, kepada Memo.co.id, Jumat (16/11).

Baca Juga: IPAL di Dalam Dapur, MBG SPPG Jajar Sempat Diantar Pick Up Terbuka

Menurut Arief, sikap pemerintah kota selama ini sering merugikan para pedagang. Setiap kali digelar kegiatan atau event di area pasar, banyak kios yang tertutupi panggung event tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

“Setiap ada event di Pasar Legi, kios kami tertutup panggung event tanpa komunikasi. Yang dilibatkan justru pedagang dari luar,” imbuhnya kesal.

Baca Juga: SLHS Terbit, IPAL Diduga Abal-Abal: SPPG Tlumpu Dikepung Pertanyaan, OPD Kota Blitar Saling Lempar Tanggung Jawab

Hal senada disampaikan Suhani, koordinator pedagang Pasar Legi. Ia menilai, kebijakan pembangunan pasar tanpa melibatkan pedagang merupakan bentuk pengabaian terhadap masyarakat kecil yang selama ini menggantungkan hidupnya di sana.

“Rencana mau merombak Pasar Legi secara total mengabaikan kami. Para pedagang tidak pernah diajak koordinasi. Tahunya justru dari media kalau pasar mau dibangun,” ujar Hani kecewa.

Menurutnya, banyak pedagang merupakan warga asli yang sudah berjualan di Pasar Legi sejak tahun 2016. Mereka khawatir jika pembangunan dilakukan tanpa perencanaan partisipatif, para pedagang akan tergusur dan digantikan oleh pedagang dari luar.