“Kalau Kota Blitar ingin kondusif, Mas Ibin jangan mengkotak-kotakkan media. Ada istilah media Pemkot, media istana, dan lainnya. Itu memicu gesekan di lapangan,” ujarnya disambut anggukan peserta.
Dengan gaya ceplas-ceplos, Prawoto melanjutkan,
Baca Juga: Ratusan Warga 212 Datangi Kantor Kecamatan Rejotangan, Tuntut Perbaikan Jalan Rusak
“Kalau Blitar mau damai, ada lima kiat untuk menyelesaikan perpecahan antara Wawali dan Mas Ibin. Tapi yang tiga, harganya mahal,” ujarnya sambil tertawa bercanda, memecah ketegangan.
Ia menambahkan,
Baca Juga: IPAL di Dalam Dapur, MBG SPPG Jajar Sempat Diantar Pick Up Terbuka
“Kalau jadi wali kota itu berat, lepaskan ego politik sektoral. Sekarang saatnya merangkul semua warga. Jadilah bapaknya wong Blitar.”
Giliran Elim Tyu Samba berbicara, suasana kembali tenang. Dengan nada kalem, ia menegaskan tak ada masalah pribadi antara dirinya dan wali kota.
“Style kepemimpinan itu berbeda-beda, dan saya bisa memahami gaya Mas Ibin. Tapi pengawasan terhadap program itu kewajiban. Seorang pemimpin perlu konsistensi antara ucapan dan tindakan,” ucap Elim memberi sindiran halus.
Refleksi malam itu akhirnya benar-benar menjadi cermin: bahwa semangat Sumpah Pemuda bukan sekadar slogan, tapi ujian nyata bagi para pemimpin apakah masih sanggup menanggalkan ego dan meneguhkan kebersamaan demi satu tujuan, Blitar yang bersatu dan maju.**












