Delapan dekade usia TNI seharusnya menjadi momen perenungan mendalam. Sebab, ironisnya, di tengah kekayaan alam negeri ini, masih banyak prajurit yang setelah purna tugas belum memiliki rumah sendiri. Ribuan lainnya masih tinggal di barak-barak sederhana.
Sementara itu, sebagian oknum jenderal justru sibuk mengurusi bisnis tambang, perkebunan, hingga menjadi beking praktik ilegal. Padahal, amanat Bung Karno sudah jelas: “Setelah merdeka, perjuangan kita bukan lagi melawan penjajah, melainkan melawan bangsamu sendiri — korupsi.”
Baca Juga: SPPG Ringinanyar Mulai Jalan Dulu, Ahli Gizi dan SLHS Menyusul: Pengawasan Ke Mana?
Panglima Sudirman dulu pernah melawan Muso dalam pemberontakan PKI Madiun. Kini, tantangan TNI modern jauh lebih kompleks — dari menjaga kedaulatan, membantu swasembada pangan, hingga menghadapi infiltrasi ekonomi dan ideologi asing.
Sudah sepatutnya, para prajurit dan pimpinan TNI di semua tingkatan meneladani kesederhanaan dan integritas Panglima Besar Sudirman.
Baca Juga: RUPS BPR Penataran, Perkuat Manajemen Risiko Kredit
Bukan hanya “perang bintang” di pundak, melainkan bintang keteladanan dan pengabdian di hati rakyat yang seharusnya lebih diutamakan.
Di usia ke-80 tahun ini, TNI diharapkan terus menjaga kemanunggalan dengan rakyat. Sebab, kekuatan sejati TNI bukan hanya pada senjata dan teknologi, melainkan pada semangat juang dan cinta tanah air yang diwariskan oleh para pendahulunya.
Baca Juga: Ratusan Warga 212 Datangi Kantor Kecamatan Rejotangan, Tuntut Perbaikan Jalan Rusak
Dirgahayu TNI ke-80!
Teruslah menjadi benteng kedaulatan dan kebanggaan rakyat Indonesia.












