Example floating
Example floating
BLITAR

Polemik Bakso Posyandu di Blitar, Warga Khawatir MSG, Desa Berdalih Inovasi Menu

A. Daroini
×

Polemik Bakso Posyandu di Blitar, Warga Khawatir MSG, Desa Berdalih Inovasi Menu

Sebarkan artikel ini
Polemik Bakso Posyandu di Blitar, Warga Khawatir MSG, Desa Berdalih Inovasi Menu

Blitar, Memo.co.id – Menu Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berupa bakso di Posyandu Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar, memicu perdebatan di kalangan warga. Dita Faisal, salah seorang ibu, mengungkapkan kekecewaannya di media sosial karena khawatir bakso tersebut mengandung Monosodium Glutamat (MSG) dan memilih mengembalikannya. Unggahan ini pun viral dan mengundang beragam tanggapan.

Dita Faisal menyatakan kekhawatirannya pada Rabu (21/5/2025) bahwa anaknya yang berusia 1 tahun 9 bulan terbiasa dengan makanan alami dan tidak diberikan makanan berperasa. Ia berharap PMT Posyandu menggunakan bahan-bahan segar lokal seperti nasi lembut, ikan segar, telur rebus, atau bubur kacang hijau. “Anak saya umur 1 tahun 9 bulan, dari kecil tidak saya beri makanan berperasa. Saya ajarkan makan alami, nasi lembut, ikan segar, telur rebus, hingga bubur kacang hijau. Semua ada di desa. Harusnya itu yang dipakai, bukan makanan instan seperti bakso dan mie,” ungkap Dita.

Baca Juga: Deteksi Dini Penyakit Penting, Nurhadi Ajak Masyarakat Blitar Rutin Skrining Kesehatan

Menurut Dita, menu PMT Posyandu biasanya berupa buah, bubur kacang hijau, bubur sumsum, dan puding. Ia juga mengkritisi puding yang mengandung gula, dianggap kurang direkomendasikan untuk anak-anak. Dita berharap para kader posyandu dilibatkan dalam penentuan menu PMT karena dinilai lebih memahami tumbuh kembang anak, bukan sepenuhnya ditentukan oleh pihak desa. “Saya tidak melarang makanan seperti puding. Tapi kalau bisa dan saya berharap kembali ke makanan alami. Desa ini punya bahan segar dan sehat. Ada daun caon, santan alami, telur, hingga kacang hijau. Tinggal diolah saja. Anak umur 6 bulan sampai 2 tahun kan belum bisa makan bakso,” tegasnya.

Inovasi Menu dan Konsultasi Ahli Gizi Jadi Alasan

Menanggapi keluhan warga, Kepala Desa Serang, Dwi Handoko, menjelaskan bahwa pemberian menu bakso ini adalah yang pertama kali dilakukan sebagai upaya inovasi agar tidak monoton. Sebelumnya, menu PMT posyandu lazimnya berupa kacang hijau, buah, dan jenang sumsum. Ia menambahkan bahwa makanan ini bersumber dari anggaran desa sebesar Rp8.800 per menu dan pengadaannya melalui penyedia jasa makanan.

Baca Juga: Berbagi di Bulan Ramadan, Polsek Sananwetan Bagikan Takjil untuk Pengendara

Handoko memastikan bahwa menu PMT posyandu, termasuk bakso, telah dikonsultasikan dengan ahli gizi di puskesmas. “Memang dari puskesmas disarankan ada perubahan menu PMT posyandu. Bakso ini masih dianggap masuk untuk memenuhi gizi anak,” tutur Handoko.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, dr. Christine Indrawati, membenarkan bahwa bakso diperbolehkan sebagai menu PMT posyandu. Dalam petunjuk teknis, makanan untuk balita harus mengandung protein hewani atau nabati, karbohidrat, dan buah. Christine menduga menu bakso yang jarang diberikan ini membuat anggota posyandu terkejut, sehingga muncul anggapan adanya MSG atau penyedap rasa yang memicu kekhawatiran orang tua.
PMT Posyandu Blitar, Gizi Balita Blitar , Kesehatan Anak Blitar

Baca Juga: BGN Turun Tangan, Puluhan SPPG di Blitar Raya Ditutup Karena Tak Penuhi Standar