Example floating
Example floating
BLITAR

PKB Kabupaten Blitar Apresiasi Gelar Pahlawan Nasional untuk Tokoh Jawa Timur

Prawoto Sadewo
×

PKB Kabupaten Blitar Apresiasi Gelar Pahlawan Nasional untuk Tokoh Jawa Timur

Sebarkan artikel ini

Lebih jauh, Fathoni juga menyoroti Marsinah, aktivis buruh yang wafat karena memperjuangkan hak-hak kaum pekerja.

“Nah, satu lagi yang mendapat gelar pahlawan dari Jawa Timur yaitu Almarhumah Marsinah, yang merupakan tokoh pejuang kaum buruh. InsyaAllah apa yang menjadi perjuangan beliau dan kaum buruh hari ini adalah wujud dari perjuangan beliau,” tegasnya.

Baca Juga: Publikasi Media Terjun Bebas, Sinergi Pemkab Blitar dan Pers Dipertanyakan

Fathoni menambahkan, Fraksi PKB memberikan perhatian khusus pada tokoh-tokoh asal Jawa Timur sebagai bentuk penghormatan terhadap akar daerah dan kontribusi para pejuang lokal dalam membangun wajah Indonesia.

“Kita spesifik yang berasal dari Jawa Timur karena kita domisili juga di Jawa Timur. Kita menghargai semua dari sepuluh penerima gelar pahlawan tahun ini, namun fokus kita hari ini adalah yang berasal dari Jawa Timur,” pungkasnya.

Baca Juga: Polemik SDN Tlogo 2 Blitar Jadi KDMP Bupati Tegaskan Pendidikan Prioritas Utama

Penganugerahan gelar pahlawan nasional setiap tahun bukan sekadar seremoni negara. Dalam perspektif yang lebih luas, ini adalah ruang refleksi bagi masyarakat tentang nilai-nilai perjuangan yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya. Ketiga tokoh asal Jawa Timur itu mencerminkan spektrum keteladanan yang berbeda mulai dari spiritualitas, keberanian, hingga keberpihakan pada kaum lemah.

Di tengah dinamika sosial-politik saat ini, pesan yang mereka tinggalkan relevan untuk terus dihidupkan: kesederhanaan Syaikhona Kholil, keberanian Gus Dur dalam memperjuangkan hak minoritas, hingga keteguhan Marsinah melawan ketidakadilan struktural.

Baca Juga: Dibekukan PCNU, MWC Sutojayan Justru Banjir 1.000 Jamaah di Pengajian Ahad Pon!

Acara tasyakuran Fraksi PKB ini sekaligus menjadi momentum pengingat bahwa penghargaan kepada pahlawan tidak berhenti pada seremoni tahunan. Ia harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata entah melalui kebijakan, advokasi publik, maupun keberpihakan politik yang berpihak pada rakyat.**