“Crowdfunding dinilai lebih humanis karena mengajak masyarakat untuk berkontribusi dalam membantu pendidikan generasi muda,” kata Asep. Dana yang terkumpul akan dikelola secara profesional agar terus berkembang dan menjamin keberlangsungan program pendidikan.
Asep mencontohkan sistem pendidikan di India, di mana negara menjamin semua anak bisa kuliah tanpa harus terikat pinjaman. Di sana, mahasiswa mendapatkan kesempatan magang dan gaji sejak masa kuliah, sehingga mampu membiayai pendidikan mereka sendiri.
Menurut Asep, Indonesia bisa meniru sistem tersebut dengan membangun kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi dan industri. Dengan demikian, mahasiswa akan mendapatkan keterampilan dan penghasilan yang memadai, tanpa harus terjebak dalam utang pendidikan setelah lulus.












