Example floating
Example floating
Home

Penyebab dan Dampak Produksi Minyak Indonesia yang Belum Memenuhi Target Hingga Tahun 2023

Alfi Fida
×

Penyebab dan Dampak Produksi Minyak Indonesia yang Belum Memenuhi Target Hingga Tahun 2023

Sebarkan artikel ini
Penyebab dan Dampak Produksi Minyak Indonesia yang Belum Memenuhi Target Hingga Tahun 2023
Penyebab dan Dampak Produksi Minyak Indonesia yang Belum Memenuhi Target Hingga Tahun 2023

MEMO

Produksi minyak siap jual atau lifting sampai Desember 2023 tidak mencapai target yang telah diamanatkan dalam APBN. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor.

Baca Juga: PSHWTM Ranting Rungkut Surabaya Bagikan 1.903 Takjil, Usung Tema "Silat Menyehatkan Raga, Berbagi Menguatkan Jiwa"

Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Tutuka Ariadji, pencapaian lifting yang tidak sesuai target disebabkan oleh dua hal. Pertama, lapangan minyak yang telah menua dengan penurunan tekanan dan cadangan yang berkurang. Kedua, fasilitas produksi yang sudah usang dan membutuhkan penggantian.

“Tentu, yang pertama adalah lapangan kita yang sudah tua, tekanannya menurun, dan cadangannya berkurang, dan yang kedua adalah fasilitas-fasilitas yang sudah tua yang perlu diganti sekarang,” tutur Tutuka saat ditemui di kantornya pada Jumat (5/1/2024).

Baca Juga: Kekayaan Alam Jawa Timur: Daerah Penghasil SDA Lengkap

Gangguan produksi disebabkan oleh fasilitas produksi migas berupa pipa yang sudah berumur puluhan tahun. Kondisi tersebut tentunya tidak lagi layak untuk digunakan.

Contohnya, fasilitas pipa yang sudah tua tersebut berada di wilayah operasi anak usaha PT Pertamina Hulu Energi (PHE), seperti di Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) dan Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ).

Baca Juga: DPR Desak BPOM Razia Kurma Berpengawet Selama Bulan Ramadhan

“Seperti di PHE OSES, penggantian pipa dilakukan, begitu juga di ONWJ. Jika penggantian ini sudah terlaksana, kenaikan produksi bisa dilakukan dengan teknologi yang lebih canggih. Namun, saat ini perhatian masih tertuju pada perbaikan fasilitas-fasilitas tersebut,” jelas Tutuka.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat bahwa produksi minyak siap jual atau lifting hanya mencapai 607 ribu barel per hari pada tahun 2023. Angka tersebut jauh di bawah target yang telah ditetapkan sebesar 660 ribu barel per hari.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan bahwa tidak hanya target lifting minyak yang tidak tercapai, tetapi juga lifting gas yang hanya mencapai 964 ribu barel oil equivalent per day (BOEPD) pada tahun 2023. Angka tersebut berada di bawah target sebesar 1,1 juta BOEPD.

“Lifting minyak dan gas semuanya di bawah asumsi tahun 2023 dan realisasi pada tahun 2022. Produksi minyak sebesar 607 ribu barel lebih rendah dari asumsi 660 ribu barel per hari dan realisasi 612 ribu barel per hari sepanjang 2022. Sementara itu, lifting gas sebesar 964 ribu BOEPD lebih rendah dari asumsi 1,1 juta BOEPD,” ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita di Gedung Djuanda, Kementerian Keuangan pada Rabu (2/1/2024).

Sementara itu, Sri Mulyani juga menyoroti harga minyak mentah dunia yang mencapai US$ 78,43 per barel pada tahun 2023. Angka tersebut di bawah asumsi pemerintah yang telah ditetapkan sebesar US$ 90 per barel sepanjang tahun 2023.

“Meskipun OPEC sudah memutuskan untuk mengurangi produksi, namun karena kondisi global yang melemah dan banyaknya alternatif energi terbarukan yang muncul, tekanan tetap tidak mudah,” jelas Sri Mulyani.