“Kami sedang memperkuat infrastruktur digital di Indonesia, karena saat ini masih ada kesenjangan yang perlu segera diatasi,” ujarnya.
Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi AI, muncul kekhawatiran mengenai identitas digital dan keaslian interaksi di dunia maya.
Baca Juga: Konsisten Dukung TNI/ Polri KAI Daop 7 Madiun Berikan Diskon Tarif Mudik
“Sangat penting bagi pengguna AI untuk memahami apakah mereka sedang berinteraksi dengan manusia asli atau hanya dengan bot. Ini juga berdampak pada kepercayaan dalam ekonomi digital,” ungkap Nick Pickles, Kepala Pejabat Kebijakan Tools for Humanity (TFH).
Menurut Pickles, teknologi AI harus dapat melindungi masyarakat dari pemalsuan identitas, penipuan, dan kejahatan digital lainnya, sehingga setiap individu tetap memiliki kendali atas identitas digital mereka sendiri.
Baca Juga: H+2 Lebaran 1447H/ 2026 M, Volume Penumpang di Wilayah Daop 7 Madiun Pecah Rekor Capai Puluhan Ribu
Pendiri dan Ketua FPCI, Dino Patti Djalal, juga menyoroti dua sisi AI sebagai inovasi yang luar biasa, tetapi juga bisa menjadi ancaman serius jika disalahgunakan.
“Jika AI digunakan secara gelap, kebebasan seseorang bisa dikompromikan. Apa arti kebebasan jika seseorang kehilangan identitasnya dan justru dimiliki oleh pihak lain?” ujar Dino.
Baca Juga: TMMD ke-127 Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Pemkab Kediri Juga Bekali Warga Olahan Ikan Lele












