” Ini menunjukkan hilangnya rasa kemanusiaan seorang dokter kepada keselamatan jiwa pasien.Jelas mengabaikan tugas dan tanggungjawab seorang dokter,” gerutu Widodo.
Yang lebih prihatin lagi masih kata Widodo melihat kondisi pasien semakin darurat hampir 11 jam hanya menunggu kepastian di rujuk ke rumah sakit mana.
Baca Juga: Tekan Angka Stunting, KDMP Desa Klurahan Siapkan Unit Usaha Budidaya Ikan Tematik
” Pelayanan seperti ini sangat mengecewakan, apakah memang pasien BPJS diperlakukan beda dengan pasien umum, buat apa rumah sakit membuka layanan BPJS,” kata Widodo.

Baca Juga: Purwanto ODGJ Anti Jarum Asal Garu Disambangi Dewan Gerindra Nganjuk
Untuk diinformasikan juga, ternyata kekecewaan layanan rumah sakit type C ini juga dirasakan seorang wanita pasien BPJS asal Desa Kedungrejo Kecamatan Tanjunganom.
Yang dikeluhkan SPY ( nama inisial pasien ) di tangan kanan bekas infus kalau digerakkan terasa sakit. Dimungkinkan saat perawat melakukan infus, jarumnya patah dan tertinggal di dalam otot.
Baca Juga: Kakanwil Kemenag Jatim Apresiasi Anugrah Nganjuk Madrasah Awards 2025
” Saat saya tanya ke perawat katanya tidak apa apa itu hanya gangguan pembuluh darah,” tutur SPY.
Dengan temuan data ketimpangan layanan RSUD Kertosono terhadap dua pasien BPJS ( Ayudya dan SPY) seperti itu dimungkinkan masih ada daftar nama nama pasien BPJS yang mengalami nasib yang sama.
Untuk mengetahui perkembangan seputar nasib pasien BPJS di RSUD Kertosono tidak menerima layanan seperti pasien umum ikuti penelusuran wartawan memo.co.id untuk edisi selanjutnya. ( Adi )












