Menurut laporan yang diterbitkan oleh Gatra pada tahun 1996, Iqro pertama kali diujicobakan kepada anak-anak yang berada di bawah bimbingan tim tadarus Angkatan Muda Masjid dan Musholla (AMM) Yogyakarta.
Metode ini kemudian berkembang pesat di TKA/TPA (Taman Kanak-Kanak Al-Quran/Taman Pendidikan Al-Quran) yang didirikan oleh AMM pada tahun 1988. Dari uji coba tersebut, diketahui bahwa murid-murid dapat membaca Al-Qur’an dengan lebih cepat.
Keberhasilan ini membuat pemerintah melihat metode Iqro sebagai cara terbaik untuk memerangi buta aksara Al-Qur’an. Sejak saat itu, penggunaan metode Iqro semakin luas. Terutama setelah pemerintah menyebarkan metode Iqro melalui pengiriman rekaman dan buku ke seluruh Indonesia.
Popularitas Iqro juga menyebar ke luar negeri. Muslim di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam mulai menggunakan Iqro sebagai cara untuk mempelajari Al-Qur’an. Jutaan buku Iqro telah dicetak oleh penerbit.
“Sejak itu, buku teks tersebut memiliki hak cipta, dan penjualannya baik di dalam maupun di luar negeri telah menghasilkan pendapatan yang signifikan bagi Tim Tadarus AMM,” tulis Mitsuo.
Hal yang menarik adalah bahwa keuntungan dari penjualan buku tersebut tidak masuk ke kantong pribadi As’ad, melainkan digunakan untuk kepentingan umat. Uang dari penjualan buku diketahui dialihkan untuk membangun pusat pengajaran dan sarana keagamaan lainnya.
Sayangnya, As’ad tidak dapat melihat kesuksesan dari karyanya untuk waktu yang lama. Pada bulan Februari 1996, ia meninggal dunia. Ketika menghadiri pemakaman As’ad Humam, Menteri Agama Tarmizi Taher menyebut As’ad sebagai pahlawan yang telah menyelamatkan Al-Qur’an, karena telah menyelamatkan masyarakat dari buta huruf terhadap kitab suci umat Islam tersebut.
Ungkapan tersebut tidaklah berlebihan. Pasalnya, metode Iqro masih dianggap sebagai cara terbaik untuk mengajarkan orang membaca Al-Qur’an hingga saat ini.
Mengenang Warisan As’ad Humam: Dedikasi dalam Pembelajaran Al-Qur’an yang Menginspirasi
Dengan kesuksesan metode Iqro dalam membantu jutaan orang belajar membaca Al-Qur’an, karya As’ad Humam menjadi berharga bagi masyarakat Indonesia dan umat Islam di seluruh dunia. Meskipun As’ad Humam telah tiada, warisan dan pengaruhnya terus mengalir dalam pembelajaran Al-Qur’an, membantu memerangi buta aksara Al-Qur’an dan menyebarkan keilmuan agama.
Melalui dedikasi dan inovasinya, As’ad Humam telah membuktikan bahwa meskipun menghadapi tantangan fisik yang berat, seseorang tetap dapat memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat dan umat.
Hal ini menjadi inspirasi bagi generasi-generasi mendatang untuk terus mengembangkan metode pembelajaran Al-Qur’an yang efektif dan inklusif.












