Blitar, Memo.co.id
Ziarah nasional dalam rangka memperingati haul Bung Karno tahun 2025 dipimpin langsung oleh Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI, Prof. Yudian Wahyudi, didampingi Wali Kota Blitar, H. Syauqul Muhibbin atau yang lebih dikenal sebagai Mas Ibin. Prosesi berlangsung sederhana namun penuh makna, bukan sekadar penghormatan simbolik, melainkan ritual spiritual yang menghubungkan generasi kini dengan ruh perjuangan masa lalu.
Baca Juga: Suami di Blitar Tega Aniaya Istri Muda Akibat Cemburu Buta Live TikTok
“Ziarah ini pada dasarnya adalah silaturahmi, mendoakan, dan bersyukur. Terutama untuk Bung Karno, karena beliau adalah proklamator. Jangan pernah menganggap orang yang mati di jalan Tuhan itu mati. Mereka hidup, bahkan diberi rezeki oleh Tuhan,” ujar Yudian usai prosesi ziarah, seraya menatap nisan hitam yang terpahat kutipan pidato Bung Karno.
Menurut Yudian, Bung Karno mungkin telah tiada secara fisik, namun gagasan, semangat, dan perjuangannya tetap hidup memandu arah bangsa hingga hari ini. Ia menekankan bahwa mengenang Bung Karno bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang merawat api ideologi Pancasila agar tak pernah padam dalam denyut kehidupan berbangsa.
Baca Juga: Safari Ramadan NasDem di Blitar, Saan Mustopa Serukan Persatuan di Pusara Bung Karno
“Secara biologis beliau sudah wafat, tapi secara spiritual, pemikiran dan perjuangannya tetap hidup. Bahkan ziarah ini punya dampak nyata bagi masyarakat sekitar UMKM bergerak, ekonomi rakyat berdenyut. Dalam makna sederhana, Bung Karno masih menghidupi yang hidup,” kata Yudian, sembari menunjuk aktivitas pedagang kecil yang meramaikan kawasan makam.
Ia juga menyampaikan bahwa Bung Karno adalah contoh nyata pemimpin yang mampu menjahit nilai-nilai kebhinekaan dan spiritualitas ke dalam fondasi negara. Akar pemikiran itu, lanjut Yudian, tumbuh sejak Bung Karno diasingkan di Ende dan menerima kiriman buku-buku keislaman dari tokoh Persatuan Islam, Ahmad Hasan.
Baca Juga: Ngopi Ramadan Jadi Panggung Evaluasi Kritis, Reformasi Struktural Jadi Tuntutan Kota Blitar
Di Ende, Bung Karno banyak merenung. Dari situlah muncul gagasan untuk kembali ke Alquran, Hadits, dan ilmu pengetahuan. Beliau mengintegrasikan nilai agama, nasionalisme, dan rasionalitas sebagai fondasi Indonesia merdeka,” terang Yudian.












