MEMO – Lebaran Ketupat, sebuah tradisi unik yang masih hidup dan berkembang di berbagai penjuru Nusantara. Perayaan yang umumnya dirayakan sepekan setelah Hari Raya Idulfitri ini, menjadi penanda kesempurnaan ibadah setelah umat Muslim menunaikan ibadah puasa Syawal selama enam hari.
Menurut Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Wahjudi Djaja, tradisi Lebaran Ketupat memiliki akar sejarah yang panjang, bahkan telah ada sejak abad ke-15. “Lebaran Ketupat merupakan wujud perpaduan harmonis antara nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai salah satu metode penyebaran agama Islam di tanah Jawa,” jelasnya dalam sebuah wawancara bersama Pro3 RRI, Jumat (4/4/2025).
Baca Juga: Momen Kebersamaan di Negeri Paman Sam: WNI di Washington Gelar Halal Bihalal Penuh Kehangatan
Lebih lanjut, Wahjudi Djaja menguraikan bahwa ketupat bukan hanya sekadar hidangan istimewa yang disantap bersama keluarga, melainkan juga mengandung makna filosofis yang mendalam. Beliau menjelaskan bahwa kata “kupat” memiliki keterkaitan erat dengan istilah dalam bahasa Jawa, yaitu “ngaku lepat” yang memiliki arti mengakui kesalahan, serta “laku papat” yang merujuk pada empat tahapan spiritual yang idealnya dilalui oleh seorang Muslim setelah bulan suci Ramadhan.
Keempat tahapan spiritual tersebut meliputi “lebar,” yang menandakan berakhirnya bulan suci Ramadhan dengan segala kewajiban puasanya, serta “lebur,” yaitu proses melebur dosa dan kesalahan melalui tradisi saling memaafkan antar sesama. Kemudian, terdapat “labur” yang melambangkan upaya penyucian diri setelah menjalani ibadah Ramadhan, dan yang terakhir adalah “luber,” yang mengandung harapan akan limpahan keberkahan rezeki setelah bulan Ramadhan usai.
Baca Juga: Nyepi Bukan Sekadar Ritual: Rahasia Harmoni Alam dan Diri di Balik Keheningan
Selain itu, bahan dasar pembuatan ketupat, yaitu janur (daun kelapa muda), juga memiliki filosofi tersendiri yang tak kalah menarik. Wahjudi Djaja menjelaskan bahwa janur berasal dari penggabungan kata ‘jati ning nur’ yang berarti cahaya sejati, melambangkan kondisi kesucian seseorang setelah berhasil melewati bulan Ramadhan dengan berbagai ibadah dan pengendalian diri.
Sementara itu, beras yang menjadi isian di dalam ketupat melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan. Wahjudi Djaja menegaskan bahwa Lebaran Ketupat merupakan bagian integral dari tradisi budaya Indonesia, dan bukan merupakan ritual keagamaan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam.
Baca Juga: Berkah Ramadan dari Balik Jeruji: Bazar Murah Kemenimipas Penuh Inovasi
“Tradisi Lebaran Ketupat ini adalah sebuah bentuk dakwah yang membumi dan dekat dengan masyarakat. Oleh karena itu, sebaiknya kita memahaminya sebagai sebuah media budaya yang efektif dalam mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan antar sesama,” tuturnya. Beliau juga menyampaikan harapannya agar generasi muda Indonesia dapat terus melestarikan tradisi Lebaran Ketupat sebagai bagian tak ternilai dari warisan budaya bangsa.












