Example floating
Example floating
Jatim

Kronologi Tragis 4 Bocah Bersaudara Tenggelam Dalam Palung Sungai Di Ponorogo

Andika Sifaul Muna
×

Kronologi Tragis 4 Bocah Bersaudara Tenggelam Dalam Palung Sungai Di Ponorogo

Sebarkan artikel ini
Kronologi Tragis Empat Bocah Bersaudara Tenggelam Dalam Palung Sungai Di Ponorogo
  • Upaya pencarian mandiri oleh sang kakek berujung duka setelah menemukan pakaian cucu-cucunya tertumpuk rapi di pinggir air.

  • Keempat korban yang masih di bawah umur ditemukan meninggal dunia di area palung sungai yang memiliki kedalaman cukup ekstrem.

    Baca Juga: Empat Bocah Bersaudara Meninggal Dunia Akibat Tragedi Sungai Jambon Ponorogo Memilukan

  • Isak tangis menyelimuti Desa Krebet saat proses evakuasi berlangsung karena para korban masih memiliki hubungan keluarga dekat.

 

Baca Juga: 3 Fakta Viral WNA Italia di Ponorogo yang Disebut Menikah Ternyata Hanya Ikrar Mualaf di KUA Ngrayun

Detik Detik Evakuasi Korban Tenggelam Di Sungai Tempuran

Kabupaten Ponorogo kembali dilingkupi awan hitam menyusul insiden memilukan yang merenggut nyawa empat anak di aliran Sungai Tempuran, Desa Krebet, Kecamatan Jambon. Harapan keluarga untuk melihat anak-anak mereka pulang sebelum matahari terbenam berubah menjadi duka yang tak terperikan.

Peristiwa ini bermula saat keriangan bermain di sore hari berubah menjadi jebakan maut di dasar sungai yang tampak tenang di permukaan namun menyimpan palung yang dalam. Sang kakek, yang menjadi orang pertama yang mencari keberadaan mereka, harus menghadapi kenyataan pahit saat menemukan cucu-cucunya telah tiada di lokasi yang seharusnya menjadi tempat mereka bersukacita.

Baca Juga: Gelombang Protes Guru SMKN 1 Ponorogo Tolak Mutasi Kepala Sekolah Hingga Turun Jalan

Suasana tenang di pemukiman warga Desa Krebet seketika pecah saat kabar mengenai hilangnya empat anak mulai tersiar.

Menurut informasi yang dihimpun, keempat bocah tersebut berangkat dari rumah sekitar pukul 15.00 WIB dengan tujuan untuk mandi dan bermain air di sungai yang tak jauh dari kediaman mereka.

Keempatnya diketahui masih memiliki ikatan saudara, sebuah fakta yang membuat tragedi ini terasa berkali-kali lipat lebih menyakitkan bagi keluarga besar yang ditinggalkan.

Pencarian dimulai ketika hari mulai beranjak sore, namun anak-anak tersebut tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Sang kakek yang merasa khawatir kemudian berinisiatif menyusul ke area sungai.

Sesampainya di lokasi, firasat buruk mulai menyelimuti ketika ia menemukan tumpukan pakaian dan sandal milik cucu-cucunya di tepi sungai, namun tidak terdengar satu pun suara tawa atau teriakan khas anak-anak. Sungai tersebut tampak sepi, hanya menyisakan aliran air yang mengalir pelan namun mencurigakan.

Dengan rasa cemas yang memuncak, sang kakek mencoba memanggil nama mereka satu per satu sembari menyisir pinggiran sungai.

Pandangannya kemudian tertuju pada area perairan yang lebih gelap, yang menandakan adanya kedalaman yang tidak biasa atau sering disebut palung sungai. Di sanalah ia melihat sosok tubuh yang mengapung. Tanpa pikir panjang, ia berteriak meminta pertolongan warga sekitar untuk membantu proses evakuasi.

Warga yang datang berbondong-bondong langsung terjun ke dalam air untuk mencari korban lainnya. Ternyata, keempat anak tersebut berada di titik yang berdekatan di dasar palung sungai tersebut.

Diduga kuat, salah satu dari mereka terpeleset ke area dalam, dan yang lainnya berusaha menolong namun justru ikut terseret karena kurangnya kemampuan berenang dan kondisi dasar sungai yang berlumpur serta mengisap.

Proses pengangkatan jenazah dari dasar sungai berlangsung sangat emosional. Keempat korban yang diidentifikasi berusia antara 5 hingga 12 tahun itu ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

Petugas dari Polsek Jambon beserta tim medis yang tiba di lokasi segera melakukan pemeriksaan luar. Hasil visum menunjukkan bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Kematian mereka murni disebabkan oleh gagal napas akibat paru-paru yang terisi air dalam waktu yang lama.

Secara geografis, Sungai Tempuran di titik tersebut memang memiliki karakteristik yang menipu. Pada musim tertentu, debit air mungkin terlihat dangkal, namun terdapat ceruk-ceruk atau palung di dasar sungai yang bisa mencapai kedalaman lebih dari dua meter.

Bagi anak-anak yang belum mahir berenang, area ini adalah zona merah yang sangat mematikan. Tragedi ini menjadi cermin bagi masyarakat di wilayah pedesaan Ponorogo bahwa pengawasan terhadap aktivitas anak di ruang terbuka, terutama perairan, tidak boleh kendor sedikit pun.

Keluarga korban tampak sangat terpukul saat jenazah disemayamkan di rumah duka. Mereka tidak menyangka bahwa izin untuk bermain sore itu akan menjadi pertemuan terakhir.

Pihak kepolisian pun mengimbau kepada seluruh orang tua agar lebih waspada dan melarang anak-anak bermain di sungai tanpa pendampingan orang dewasa, terutama di lokasi-lokasi yang memiliki kontur palung yang berbahaya.

Pentingnya Pengawasan Orang Tua Saat Anak Bermain Sungai

Kejadian ini menambah panjang daftar kecelakaan air di wilayah Jawa Timur yang melibatkan anak-anak. Minimnya edukasi mengenai keselamatan di air serta tiadanya pembatas atau papan peringatan di area rawan menjadi faktor pendukung terjadinya musibah ini.

FAQ

Korban pertama kali ditemukan oleh kakek mereka sendiri yang curiga karena cucu-cucunya tidak kunjung pulang ke rumah setelah pamit pergi bermain ke sungai.

Dugaan sementara menunjukkan adanya upaya saling tolong-menolong ketika salah satu korban terjebak di palung sungai yang dalam, namun karena kondisi arus dan kedalaman, keempatnya justru terseret bersama.

Tidak. Berdasarkan pemeriksaan medis dan kepolisian, tidak ditemukan tanda kekerasan fisik. Korban murni meninggal akibat tenggelam.

Kejadian berlangsung di aliran Sungai Tempuran, yang masuk dalam wilayah administratif Desa Krebet, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo.

Para korban merupakan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah, dengan rentang usia mulai dari 5 tahun hingga tertua 12 tahun.