NGANJUK, MEMO – Persoalan limbah jelaga ( langes,red) dari hasil pengolahan tebu di Pabrik Gula ( PG) Lestari Patianrowo, Nganjuk sampai saat ini masih rentan menimbulkan konflik sosial di tengah masyarakat.
Karena dampak yang ditimbulkan dari limbah jelaga tersebut cukup meresahkan warga. Selain mencemari lingkungan penduduk, juga secara perlahan lahan bisa mengancam kesehatan masyarakat. Salah satunya bisa mengakibatkan gangguan saluran pernafasan atau istilah medisnya ISPA.
Baca Juga: Team Baksos AWN Jadi Burbershop Dadakan, Tiga ODGJ Jalanan Dicukur Rapi
Selain dampak itu, seperti disampaikan sejumlah warga di 4 desa yang terkena dampak langsung limbah jelaga PG Lestari mengaku sumber mata air tanahpun terkontaminasi.

Baca Juga: Kesandung Perkara Korupsi APBDES, Kades Dadapan Dituntut 1 Tahun 10 Bulan Penjara
” Air berubah warna dan rasa. Karena setiap hari terkontaminasi zat emisi jelaga berwarna hitam,” keluh para warga.
Untuk diketahui dari 4 desa yang tercemari limbah jelaga PG Lestari diantaranya Desa Patianrowo, Pakuncen, Ngronbot dan Desa Rowomarto. Karena lokasi pemukiman penduduk di 4 desa tersebut jaraknya tidak jauh dari PG Lestari.
Baca Juga: Jelang Lebaran, Protes Jalan Rusak Jadi Trend Publik , Dinas PUPR Kewalahan Terima Laporan
Diinformasikan juga pencemaran udara akibat limbah jelaga dirasakan warga saat musim giling tebu seperti saat ini . Bisa dipastikan rumah rumah warga akan terkotori debu langes hitam yang keluar dari cerobong pabrik.

Langes hitam masih disampaikan para warga tidak hanya mengotori atap rumah saja.
Tapi juga mengotori kamar tidur, ruang tamu, dapur serta kamar mandi.
” Makan nasi bercampur langes itu sudah biasa sejak dulu. Warga protes berkali kali ke pabrik tapi selalu kandas. Akhirnya hanya bisa pasrah saja,” ujar para warga terdampak.












