Example floating
Example floating
Internasional

Komandan Pasukan Quds Iran, Esmail Qaani, Muncul Hidup di Tengah Klaim Kemenangan atas Israel

A. Daroini
×

Komandan Pasukan Quds Iran, Esmail Qaani, Muncul Hidup di Tengah Klaim Kemenangan atas Israel

Sebarkan artikel ini
Komandan Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Brigadir Jenderal Esmail Qaani

Memo, hari ini

Rumor dan laporan media Barat yang mengklaim kematian Brigadir Jenderal Esmail Qaani, Komandan Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, terbantahkan. Qaani tampil di hadapan publik dalam keadaan hidup dan sehat, menghadiri perayaan yang diklaim sebagai kemenangan Iran atas Israel di Teheran, Selasa (24/6/2025). Penampilannya ini menjadi sinyal kuat di tengah ketegangan regional yang memanas.

Baca Juga: Menteri Pertanian Jepang Eto Mundur di Tengah Badai Kritik soal Kenaikan Harga Beras

Penampakan Qaani Meredam Spekulasi Kematian

Kehadiran Esmail Qaani di tengah kerumunan massa saat perayaan tersebut didokumentasikan dalam sebuah video yang diunggah oleh Kantor Berita Iran, Tasnim. “Komandan Qaani menghadiri perkumpulan rakyat Tehran pada hari ini usai Operasi Divine Victory,” tulis Tasnim di platform media sosial X (sebelumnya Twitter), menegaskan keberadaan jenderal penting tersebut.

Saluran televisi yang didanai negara, Press TV, juga turut memublikasikan video serupa. Mereka menyatakan, “Brigadir Jenderal Esmail Qaani, Komandan Pasukan Quds IRGC, disambut dengan hangat oleh kerumunan yang bergembira di Tehran selama perayaan kemenangan atas rezim Zionis (Israel).”

Baca Juga: Spektakuler Pecahkan Rekor MURI Khofifah Dan Utusan Khusus Raja Salman Ajak Ribuan Warga Bukber Sebagai Simbol Persaudaraan Dunia

Penampakan ini secara langsung membantah laporan The New York Times pada awal bulan ini, yang menyebutkan bahwa Qaani termasuk di antara pemimpin militer Iran yang tewas dalam serangkaian serangan udara Israel. Hal ini menunjukkan dinamika perang informasi yang intens di antara para aktor regional dan global.

Gelombang Serangan dan Gencatan Senjata yang Dipicu Konflik

Konflik antara Israel dan Iran telah memuncak sejak 13 Juni, ketika Israel melancarkan serangan udara ke berbagai lokasi di Iran, termasuk fasilitas militer dan nuklir. Israel menuduh Teheran hampir memproduksi bom nuklir—klaim yang dibantah keras oleh Iran sebagai program yang sepenuhnya damai.

Baca Juga: Umi Sjarifah, Pemred Media Sudut Pandang Raih Anugerah INDOPOSCO atas Dedikasi Jurnalistik

Ketegangan semakin meningkat ketika Iran membalas dengan meluncurkan belasan rudal dan drone. Amerika Serikat kemudian ikut campur, dengan mengebom tiga situs nuklir Iran pada Minggu (22/6/2025).

Setelah 12 hari pertempuran sengit antara kedua musuh bebuyutan di kawasan tersebut, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Iran pada Senin (23/6/2025) malam waktu setempat, dalam upaya mengakhiri konflik yang mengkhawatirkan itu.

Keraguan Intelijen AS atas Klaim Kehancuran Program Nuklir Iran

Namun, di balik klaim kemenangan dan gencatan senjata, muncul laporan kontradiktif mengenai efektivitas serangan terhadap program nuklir Iran.

Sebuah bocoran laporan dari Gedung Putih menyimpulkan bahwa serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel ternyata gagal melenyapkan program nuklir Iran secara total, tidak seperti yang digembar-gemborkan oleh Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Laporan intelijen awal yang dikeluarkan oleh Badan Intelijen Pertahanan (DIA) pada Senin (23/6/2025) secara terang-terangan bertentangan dengan pernyataan Trump bahwa program nuklir Iran “sepenuhnya dilenyapkan” setelah serangan.

Penilaian ini, yang diperoleh dari dua sumber yang mengetahui laporan tersebut, menyatakan bahwa meskipun serangan pada situs nuklir Fordo, Natanz, dan Isfahan menimbulkan kerusakan signifikan, fasilitas tersebut tidak hancur total.

Lebih lanjut, The Washington Post menyimpulkan bahwa serangan terhadap Iran hanya menghambat program nuklir Iran dalam hitungan bulan, bukan sepenuhnya melumpuhkannya.

Dikatakan pula bahwa temuan intelijen menilai pemboman AS “gagal menghancurkan komponen inti” program nuklir Iran, dengan cadangan uranium Teheran dilaporkan tidak terpengaruh. Mayoritas mesin sentrifugal Iran juga disebut masih utuh.

Gedung Putih Bantah Laporan Intelijen

Menanggapi penilaian yang bocor ini, Gedung Putih dengan tegas menolak dan menyebutnya “benar-benar salah”. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam sebuah pernyataan, mengatakan, “Bocornya dugaan penilaian ini jelas merupakan upaya untuk merendahkan Presiden Trump, dan mendiskreditkan pilot pesawat tempur pemberani yang melakukan misi sempurna untuk melenyapkan program nuklir Iran.”

Baik CIA maupun Kantor Direktur Intelijen Nasional menolak untuk berkomentar mengenai penilaian DIA tersebut, menambah lapisan misteri di balik laporan intelijen ini.

Dengan kemunculan Esmail Qaani yang membantah klaim kematiannya dan laporan intelijen yang meragukan klaim kehancuran program nuklir Iran, konflik di Timur Tengah tampaknya masih jauh dari kata usai, bahkan setelah gencatan senjata diumumkan.

Dinamika informasi dan klaim yang saling bertentangan terus mewarnai panggung geopolitik global.