Dengan demikian, lanjutnya, potensi keberadaan kasus TBC yang belum terdeteksi di tengah masyarakat masih cukup besar. Kondisi ini membuka peluang bagi penyakit menular tersebut untuk menyebar lebih luas di lingkungan masyarakat.
“Oleh karena itu, sebagai langkah antisipatif untuk menekan angka penyebaran TBC, kami secara intensif melakukan kegiatan edukasi kepada masyarakat,” tegasnya.
Selain upaya preventif melalui edukasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri juga secara berkelanjutan mengadakan kegiatan investigasi atau tracing kasus TBC di berbagai lokasi. Langkah ini dianggap krusial mengingat penyakit TBC dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia, mulai dari anak-anak hingga lansia.
“Dalam upaya penemuan kasus TBC, kami tidak dapat bekerja sendiri. Kami aktif melibatkan berbagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL). Terlebih lagi, penanganan TBC bukan hanya domain dokter spesialis paru, melainkan melibatkan berbagai disiplin ilmu kedokteran, termasuk dokter bedah dan dokter anak,” pungkasnya, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektoral dalam penanggulangan TBC.
Baca Juga: Menyingkap Misteri Situs Adan-Adan Kediri yang Viral Karena Ukurannya Melebihi Borobudur












