Blitar, memo.co.id
Kebijakan mutasi sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar terus menuai sorotan. Langkah yang diambil oleh Wali Kota Blitar dinilai tidak bijak karena tidak melibatkan unsur penting seperti Wakil Wali Kota dan Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat).
Padahal, sesuai dengan regulasi dan etika birokrasi pemerintahan, setiap kebijakan mutasi seharusnya mempertimbangkan asas profesionalitas, transparansi, serta melibatkan unsur pertimbangan dari Baperjakat sebagai lembaga yang memiliki tugas memberikan rekomendasi terhadap mutasi, promosi, dan rotasi jabatan ASN.
Baca Juga: Ratusan Warga 212 Datangi Kantor Kecamatan Rejotangan, Tuntut Perbaikan Jalan Rusak
Ketua DPRD Kota Blitar angkat bicara terkait kebijakan tersebut. Ia menilai, meski mutasi merupakan hak prerogatif wali kota, namun tetap harus dilakukan dengan dasar pertimbangan yang objektif dan berorientasi pada peningkatan kinerja ASN, bukan kepentingan pribadi atau politik.
“Mutasi dan penyegaran tugas para ASN di lingkup Pemkot Blitar memang prerogatif wali kota. Tapi kalau mutasi dilakukan tanpa memperhatikan prestasi dan kinerja ASN, justru akan menghambat pelayanan kepada masyarakat,” tegas Ketua DPRD Kota Blitar saat dikonfirmasi, Selasa (14/10/2025).
Baca Juga: IPAL di Dalam Dapur, MBG SPPG Jajar Sempat Diantar Pick Up Terbuka
Lebih lanjut, sumber internal Pemkot Blitar yang enggan disebut namanya menyebut, proses mutasi kali ini dilakukan secara tertutup dan tanpa musyawarah bersama Baperjakat. Bahkan, dokumen keputusan mutasi disebut-sebut hanya disodorkan untuk ditandatangani tanpa penjelasan detail.
“Wah, ini kebijakan wali kota paling konyol. Sampai Baperjakat saja tidak diajak musyawarah soal mutasi. Tiba-tiba disodori berkas dan ditodong untuk tanda tangan. Padahal tidak tahu siapa pejabat yang dimutasi dan di mana mereka ditempatkan,” ungkap sumber tersebut kepada memo.co.id.
Situasi ini juga berimbas pada hubungan antara Wali Kota dan Wakil Wali Kota Blitar, Elim Tyu Samba, yang kini disebut semakin retak. Elim secara terbuka menyatakan kekecewaannya karena tidak diajak berkoordinasi dalam pengambilan keputusan strategis tersebut.












