Kaesang Pangarep, sebagai ketua umum petahana, juga tetap berpeluang untuk mencalonkan diri kembali.
Analisis Pengamat: Jokowi Sang “Dewa Penyelamat” yang Berisiko
Fenomena munculnya nama Jokowi di dua partai ini tak luput dari perhatian pengamat politik. M. Jamiluddin Ritonga, pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, menyoroti adanya persoalan serius di internal kedua partai tersebut. Menurut Jamiluddin, munculnya nama Jokowi mengindikasikan tiga hal krusial:
Baca Juga: GEMPAR! Sidang Impor Gula Seret Nama Jokowi, Tom Lembong Ungkap Perintah Langsung Presiden
Gagalnya Kaderisasi: Baik PPP maupun PSI, kata Jamiluddin, tampak tidak memiliki kader internal yang mumpuni untuk diusung sebagai ketua umum.
“Ini menyiratkan kaderisasi di dua partai ini tak berjalan, bahkan gagal. Padahal, kaderisasi penting agar regenerasi kepemimpinan berjalan mulus dan tidak terjadi kekosongan antar generasi,” kritiknya.
Baca Juga: Isu Ijazah Jokowi Kembali Memanas, Andi Widjajanto Beri Klarifikasi Tegas
Anggapan ‘Dewa Penyelamat’ yang Spekulatif:
PPP dan PSI, menurut Jamiluddin, masih menempatkan Jokowi layaknya “dewa penyelamat” yang dianggap mampu membawa partai ke Senayan pada Pemilu 2029. Namun, ia memperingatkan bahwa anggapan ini sangat spekulatif, mengingat reputasi dan citra Jokowi yang disebutnya “terus menurun” pasca-menjabat presiden, akibat berbagai isu mulai dari legalitas ijazah hingga dugaan KKN di lingkaran keluarganya.
“Keinginan PPP dan PSI menjadikan Jokowi ketua umum ibarat berjudi. Jika perhitungannya meleset, dua partai ini bisa tetap jadi partai gurem,” tegas Jamiluddin.
Inkonsistensi PSI: Khusus untuk PSI, Jamiluddin merasa ada keanehan. Sebagai partai yang mengusung semangat kaum muda, keinginan untuk dipimpin oleh Jokowi yang secara usia jauh dari kategori muda dianggap ironis.
“Ironis jika partai orang muda dipimpin oleh manula. Hal ini menunjukkan PSI inkonsisten dan pragmatis. Idealisme partai digadaikan begitu saja,” ujarnya.
Jamiluddin mengimbau agar PPP dan PSI melakukan kajian matang terhadap kelayakan Jokowi sebagai ketua umum. “Jangan sampai perhitungan politik yang keliru justru membuat kedua partai ini makin terpuruk dalam peta politik nasional,” tandasnya.
Di tengah spekulasi dan analisis tajam, pilihan Jokowi untuk berlabuh di PSI, atau setidaknya memberikan sinyal kuat ke arah sana, akan menjadi salah satu dinamika politik paling menarik untuk dicermati jelang Pemilu 2029. Apakah ini akan menjadi langkah strategis yang menguntungkan, atau justru membawa risiko baru bagi partai yang akan dipimpinnya? Waktu yang akan menjawab.












