SURABAYA – Musim haji 2025 diwarnai kabar duka bagi jemaah haji Jawa Timur. Data terbaru menunjukkan, sebanyak 77 jemaah asal Bumi Majapahit yang berangkat dari Debarkasi Surabaya telah meninggal dunia di Tanah Suci. Mayoritas kasus kematian disebabkan oleh riwayat penyakit yang sudah diderita jemaah sebelum keberangkatan.
Plh Sekretaris PPIH Debarkasi Surabaya, Sugiyo, mengonfirmasi angka tersebut. Ia menjelaskan bahwa faktor utama meninggalnya jemaah adalah kondisi kesehatan yang memang sudah rentan. “Jemaah yang wafat sampai hari ini untuk Jawa Timur sebanyak 77.
Jemaah haji yang meninggal itu rata-rata karena penyakit-penyakit yang sudah diderita dari tanah air, seperti misalnya hipertensi, kemudian jantung, sesak napas,” ungkap Sugiyo, merinci jenis-jenis penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian.
Baca Juga: Misteri Kematian Bocah di Sukabumi Dugaan Kekerasan Ibu Tiri Hingga Proses Hukum
Sugiyo juga menerangkan prosedur penanganan jemaah haji yang wafat. Sesuai ketentuan, jemaah haji yang meninggal dunia di Arab Saudi akan langsung dimakamkan di sana, baik di Madinah maupun di Mekkah. Prosedur ini memastikan bahwa pengurusan jenazah dilakukan sesuai syariat Islam dan kebijakan Kerajaan Arab Saudi.
Sementara itu, bagi jemaah yang meninggal sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci, jenazahnya akan dipulangkan untuk dimakamkan di daerah asalnya masing-masing. “Ya tergantung, ketika meninggal dunia di Saudi, dimakamkan di Saudi, baik di Madinah maupun di Mekah. Untuk yang di tanah air dipulangkan ke kabupaten kota masing-masing,” jelasnya.
Selain kabar duka, Sugiyo juga menyampaikan bahwa terdapat 14 jemaah haji asal Jawa Timur lainnya yang saat ini masih menjalani perawatan intensif di Tanah Suci karena sakit.
Kondisi ini memerlukan pemantauan ketat dari tim kesehatan haji. Untuk jemaah yang masih dalam perawatan dan tidak memungkinkan untuk kembali sesuai jadwal kloter awal, mereka akan menjalani proses tanazul. “14 jemaah haji tadi yang saya sebutkan tadi, itu nanti di tanazulkan kepulangannya ke tanah air mengikuti kloter berikutnya,” tutup Sugiyo.
Proses tanazul kloter ini memastikan bahwa jemaah yang sakit dapat kembali ke Tanah Air setelah kondisi mereka membaik dan mendapatkan pengawasan medis yang memadai selama perjalanan.
Data ini menjadi pengingat penting akan urgensi pemeriksaan kesehatan haji yang menyeluruh sebelum keberangkatan. Kesiapan fisik dan kondisi kesehatan prima sangat dibutuhkan mengingat ibadah haji adalah perjalanan spiritual yang membutuhkan stamina tinggi.
Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan terus mengimbau calon jemaah untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin dan melaporkan riwayat penyakit agar mendapatkan penanganan yang tepat.












