Memo, Jombang — Tokoh ulama asal Jombang, KH Mustain Syafi’i, menyampaikan imbauan tegas agar proses pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar NU ke-35 terbebas dari praktik politik uang demi menjaga marwah dan warisan spiritual para pendiri organisasi.
Pernyataan tersebut disampaikan KH Mustain Syafi’i menyikapi geliat bursa calon pemimpin PBNU yang mulai memanas pada Rabu, 29 Juli 2026. Menurutnya, kontestasi tertinggi dalam jamiyyah Nahdlatul Ulama harus mengedepankan ketulusan khidmah ketimbang arena perebutan kekuasaan semata.
Ia menekankan bahwa calon nakhoda PBNU wajib dibekali kemampuan tata kelola organisasi yang mumpuni serta komitmen moral yang kokoh. Seorang pemimpin ideal harus sanggup meresapi tatanan nilai serta cita-cita luhur yang diwariskan oleh para muassis NU.
“Yang paling penting adalah menjiwai semangat para pendiri NU, mengabdi dengan tulus, bukan berlomba mengejar jabatan,” tegas Mustain.
Secara khusus, ancaman politik uang dalam bursa pemilihan dinilainya sebagai noktah hitam yang dapat merusak tradisi suci muktamar. Ia mengingatkan seluruh warga nahdliyin agar tidak menyamakan muktamar dengan kontestasi politik praktis yang berorientasi materi.
Untuk memperkuat pesan moralnya, Kiai Mustain meneladani keluhuran sikap para tokoh terdahulu NU, seperti saudagar Hasan Gipo dan KH Mahfudz Siddiq. Kala itu, para pimpinan awal NU justru berhati-hati dan merasa ragu memegang amanah kepemimpinan karena khawatir tak sanggup menanggung beban tanggung jawabnya.
“Jangan sampai terjadi rebutan jabatan, apalagi sampai ada money politics seperti pilkades atau pilpres. Itu bukan adab warga NU,” ujarnya.
Ia berharap gelaran Muktamar NU ke-35 mendatangkan kepemimpinan baru yang berintegritas tinggi serta berfokus penuh pada pengabdian bagi kemaslahatan umat dan bangsa.
Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini











