Aktivitas padat merayap ini, yang terjadi setiap hari kerja, secara langsung melumpuhkan akses vital menuju Istana Gebang. Alhasil, setiap pengendara yang melintas harus berjibaku, merayap perlahan, dan menahan emosi.
Situasi ini tak hanya menghambat, tapi juga memicu kegeraman kolektif. Murtadi, Warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Kepanjenkidul, yang saban hari harus melewati jalur ini, merasakan penderitaan yang sama.
“Mestinya jalan utama menuju tempat bersejarah seperti Istana Gebang itu dijaga ketertibannya. Ini malah jadi tontonan semrawut. Apakah harus ada korban dulu baru pihak terkait bergerak? Kami capek disuruh sabar setiap hari!” – Murtadi dengan nada menuntut, menyuarakan frustrasi para komuter.
Warga mempertanyakan, di mana peran penegak hukum dan instansi terkait? Mengapa simpul kemacetan yang bersifat rutin dan terprediksi ini dibiarkan membusuk menjadi masalah akut?
Baca Juga: Respons Cepat Polres Blitar, Arena Judi Sabung Ayam di Bajang Langsung Dibongkar
Blitar, sebagai Kota Proklamator, seolah ternoda oleh pemandangan ini. Jalan Sultan Agung, yang seharusnya menjadi etalase wajah kota, justru menampilkan ironi: sejarah besar harus terhenti di tengah kemacetan yang sepele namun mematikan pergerakan.
Tinggal menunggu waktu, kapan otoritas setempat akan mencabut akar masalah ini, menertibkan parkir liar, dan mengurai benang kusut yang telah lama mencekik jalur utama kota tersebut.**
Baca Juga: SPPG Tlumpu Disorot, Menu MBG di SMAN 1 Kota Blitar Dinilai Tak Layak, IPAL Bermasalah












