Example floating
Example floating
Metropolis

Hati hati dengan Resep Dokter Untuk Jenis Obat Sirup, Pahami Resiko dan Manfaatnya

A. Daroini
×

Hati hati dengan Resep Dokter Untuk Jenis Obat Sirup, Pahami Resiko dan Manfaatnya

Sebarkan artikel ini
hati hati resep obat sirup

Jakarta, Memo
Wakil ketua Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Prof Keri Lestari menyampaikan obat sirop masih mungkin untuk diresepkan ke pasien tertentu sepanjang pemikiran resiko dan faedahnya dalam pengamatan dokter.

“Pasti dengan menimbang di antara manfaat obat dan resiko. Tiap kita pilih obat, tentu menimbang perlakuan itu, karena obat itu karakternya toksin hingga diberi pada keadaan yang benar-benar memang berguna,” ucapnya dihubungi di Jakarta, Kamis.

Baca Juga: Eks Menteri Budi Karya Bantah Keterlibatan dengan Mafia Judi Online: Cuma Temenan Musik, Kok!

Dia menjelaskan resep obat sirop yang diresepkan ke pasien perlu ditegaskan jangan melewati jumlahnya agar tidak ada efek selesai dimakan pasien.

Di tengah-tengah kehati-hatian pemerintahan dengan menghentikan sementara pemberian obat sirop karena proses interograsi kasus tidak berhasil ginjal kronis, kata Keri, rupanya ada mayoritas pasien anak yang belum taat dan tidak nyaman saat konsumsi obat puyer atau tipe lainnya.

Baca Juga: H+2 Lebaran 1447H/ 2026 M, Volume Penumpang di Wilayah Daop 7 Madiun Pecah Rekor Capai Puluhan Ribu

Menurut apoteker dari Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Jawa Barat itu, ada batasan nilai toleran obat sirop yang tidak memunculkan dampak bikin rugi untuk pasien.

Dia menambah walau, senyawa etilen glikol dan dietilen glikol yang diperhitungkan kuat pemicu tidak berhasil ginjal kronis misteri tidak dipakai dalam formula obat, tetapi bisa saja kehadirannya berbentuk kontaminan pada bahan tambahan sediaan sirop dengan nilai toleran 0,1 % pada gliserin dan propilen glikol, dan 0,25 % pada polietilen glikol.

Baca Juga: Cek Fakta Ramai Soal THR ASN Tahun 2026 Cair Awal Ramadhan Begini Kata Pemkab Lumajang Untuk Berikan Kepastian Bagi Pegawai

“Namanya bayi, misalkan anak di bawah umur lima tahun, apa lagi susah kita memaksa untuk obat puyer, karena itu ada alternative obat sirop,” ucapnya.

Sepanjang beberapa obat yang telah terbiasa digunakan tidak ada permasalahan dan di bawah pengamatan dan kendalian dokter, kata Keri, karena itu apoteker dengan menimbang kesuksesan therapy dan keselamatan pasien, bisa saja untuk memberi obat sirop dengan terus mengawasi keadaan pasien.

Menurutnya Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah mereferensikan supaya pemakaian obat sirop dijauhi sepanjang belum ada konklusi tunggal hal pemicu kasus tidak berhasil ginjal kronis misteri.

“Saat ini IDAI telah menarik lebih awal berkaitan dengan resiko ini. Maknanya, tidak ada tidak berhasil ginjal, tetapi jika terjadi masalah ginjal setelah diterapi dan treatment, menyusut volume urinenya, kita langsung lakukan terapi, kita beri obatnya, kita menyelamatkan yang dapat tangani keadaan yang tidak memberikan keuntungan semacam itu,” ucapnya.

Kelompok apoteker sampai sekarang ini masih menunggu hasil telisik Tubuh Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Kemenkes hal merk obat sirop apa yang bisa dibuktikan secara medis melebihi tingkat batasan.

“Kami sedang menanti dan menghargakan faktor kehati-hatian dari Kemenkes. Kita sedang menanti hasil telisik dari BPOM merk apa saja sich yang di atas tingkat batasannya,” begitu Keri Lestari.