Example floating
Example floating
Infobis

Gudang Garam Bantah Isu PHK Massal, Jelaskan Kondisi Karyawan dan Keuangan

A. Daroini
×

Gudang Garam Bantah Isu PHK Massal, Jelaskan Kondisi Karyawan dan Keuangan

Sebarkan artikel ini
Gudang Garam Bantah Isu PHK Massal, Jelaskan Kondisi Karyawan dan Keuangan

Jakarta, Memo
Manajemen PT Gudang Garam Tbk (GGRM) akhirnya buka suara terkait isu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang sempat meresahkan publik. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan membantah adanya PHK massal.

Direktur dan Corporate Secretary GGRM, Heru Budiman, menjelaskan bahwa yang terjadi adalah pelepasan 309 karyawan secara normatif melalui mekanisme pensiun normal, pensiun dini sukarela, serta berakhirnya kontrak kerja. Heru menegaskan, proses ini tidak memengaruhi operasional perusahaan dan tidak menimbulkan masalah hukum.

Baca Juga: Sangat Dinanti Perajin Genting di Lamongan Berharap Kebijakan Gentengisasi Prabowo Hidupkan Industri Lokal yang Hampir Mati Suri

“Saat ini operasional Perseroan berjalan seperti biasa, dari produksi hingga distribusi,” kata Heru.

Isu PHK ini merebak setelah beredarnya video yang menampilkan acara perpisahan buruh Gudang Garam. Hal ini menambah kekhawatiran di sektor ketenagakerjaan, mengingat sebelumnya pabrik tekstil Sritex juga mengalami kebangkrutan dan mem-PHK hampir 10.000 karyawannya.

Baca Juga: Pastikan Kesiapan Angkutan Lebaran 2026, Direktur Operasi KAI Lakukan Inspeksi Lintas di Wilayah Daop 7 Madiun

Penurunan Laba dan Strategi Perusahaan

Klarifikasi ini muncul di tengah laporan keuangan perusahaan yang menunjukkan penurunan laba signifikan. Hingga semester I tahun 2025, laba bersih GGRM anjlok 87,3% menjadi Rp117,1 miliar, jauh di bawah perolehan periode yang sama di tahun 2024 yang mencapai Rp925,5 miliar.

Penurunan laba ini disebabkan oleh:

Baca Juga: Pastikan Kesiapan Angkutan Lebaran 2026, Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Inspeksi Keselamatan dan Pelayanan di Wilayah Daop 7 Madiun

Pendapatan turun 11,4%, dari Rp50,01 triliun (Juni 2024) menjadi Rp44,3 triliun (Juni 2025).

Laba kotor turun menjadi Rp3,7 triliun, dari Rp5,06 triliun di tahun sebelumnya.

Laba usaha anjlok menjadi Rp513,7 miliar, dari Rp1,613 triliun.

Selain itu, GGRM juga mencatat kerugian kurs sebesar Rp1,7 miliar dan penyusutan total aset menjadi Rp79,8 triliun. Heru menambahkan, perusahaan telah meluncurkan beberapa produk baru pada tahun 2024 sebagai upaya penyesuaian terhadap kondisi pasar yang lesu. Ia menegaskan, GGRM akan terus beradaptasi dengan perkembangan ketentuan cukai dan penanganan rokok ilegal.

Isu PHK massal di GGRM sebelumnya merebak setelah beredar video acara perpisahan buruh Gudang Garam, yang menambah daftar kabar kurang baik di sektor ketenagakerjaan, pasca-pailitnya Sritex yang menyebabkan ribuan karyawan di-PHK.