Prof. Wahyu menambahkan bahwa aktivitas manusia, seperti eksploitasi air tanah yang berlebihan, dapat memperburuk kondisi ini.
Ketika muka air tanah turun drastis akibat disedot terus-menerus, rongga bawah tanah kehilangan tekanan penyangganya, sehingga struktur di atasnya menjadi tidak stabil dan rentan amblas. “Pencegahan secara total memang sulit dilakukan karena ini berkaitan dengan karakter geologi wilayah, namun mitigasi tetap bisa dijalankan,” tegasnya.
Langkah mitigasi yang mendesak dilakukan meliputi pemantauan geologi secara berkala dan pemetaan zonasi rawan bencana oleh pemerintah daerah.
Selain itu, pengendalian tata guna lahan harus diperketat, terutama di kawasan yang diketahui memiliki formasi batuan gamping. Sistem drainase juga memegang peranan vital; air hujan harus dialirkan dengan baik agar tidak meresap secara liar ke dalam tanah dan mempercepat proses pelarutan batuan bawah permukaan.
Masyarakat setempat, yang mengenal fenomena ini dengan istilah lokal “Sawah Luluih”, diharapkan tetap waspada dan proaktif melaporkan jika menemukan tanda-tanda awal amblasan tanah di sekitar lingkungan mereka.
Edukasi mengenai karakteristik tanah sangat diperlukan agar warga memahami risiko tinggal atau bertani di kawasan yang memiliki struktur bawah tanah berongga. Langkah-langkah preventif ini diharapkan dapat meminimalisir potensi kerugian materiil maupun korban jiwa di masa mendatang.
Baca Juga: Misteri Kematian Bocah di Sukabumi Dugaan Kekerasan Ibu Tiri Hingga Proses Hukum
FAQ
Sinkhole adalah lubang pada permukaan tanah yang terbentuk akibat runtuhnya lapisan bawah tanah. Hal ini biasanya dipicu oleh pelarutan batuan kapur oleh air hujan atau adanya rongga bawah tanah yang tidak kuat lagi menahan beban di atasnya.
Penyebab utamanya adalah tingginya curah hujan akibat Siklon Senyar pada akhir 2025 yang mempercepat pelarutan batuan gamping dan erosi tanah di wilayah karst Nagari Situjuah Batua.
Secara teknis sulit diprediksi secara akurat kapan tepatnya tanah akan amblas, namun wilayah rawan bisa diidentifikasi melalui survei geologi untuk menentukan zonasi risiko.
Warga diimbau segera melapor ke pihak BPBD atau pemerintah nagari setempat dan menjauhi area lubang karena potensi perluasan diameter lubang masih bisa terjadi.












