Example floating
Example floating
Infobis

Dominasi China di Hilirisasi Tambang RI Menguat: Garap Nikel EV Raksasa, Lirik Proyek Batu Bara Mangkrak!

Alfi Fida
×

Dominasi China di Hilirisasi Tambang RI Menguat: Garap Nikel EV Raksasa, Lirik Proyek Batu Bara Mangkrak!

Sebarkan artikel ini
Dominasi China di Hilirisasi Tambang RI Menguat

Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), Arsal Ismail, mengungkapkan bahwa pihaknya telah aktif mendekati sejumlah perusahaan asal China untuk mencari mitra pengganti Air Product. Beberapa perusahaan yang telah dijajaki antara lain CNCEC, CCESCC, Huayi, Wanhua, Baotailong, Shuangyashan, dan ECEC.

“Dari seluruh calon mitra tersebut baru ECEC gitu ya, yang menyatakan minat menjadi mitra investor meskipun belum dari dalam skema investasi penuh atau full investment,” kata Arsal dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII DPR RI, Senin (5/5/2025).

Baca Juga: JUALAN TERPURUK! China dan India Tinggalkan Batu Bara RI, Industri Tambang Pusing Tujuh Keliling!

PTBA mencatat bahwa ECEC telah menyampaikan preliminary proposal coal to DME pada November 2024. Sambil menunggu kepastian mitra investasi, PTBA terus mempersiapkan proyek DME ini secara paralel. Hingga saat ini, perusahaan telah berhasil membebaskan lahan seluas 198 hektare atau sekitar 97% dari total kebutuhan lahan sebesar 203 hektare.

Meskipun dominasi investasi China di sektor hilirisasi tambang semakin terlihat, pemerintah Indonesia menegaskan tetap membuka pintu bagi investasi dari negara lain. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, bahkan mengindikasikan akan ada investor baru dari salah satu tujuh perusahaan besar dunia yang akan menjadi mitra Huayou dalam proyek baterai.

Baca Juga: Investor Terbesar di Dunia Kabur dari China! Apa yang Terjadi?

“Nanti kita umumkan ya. Ini salah satu perusahaan yang masuk tujuh besar di dunia. Enggak mungkin dong kami memasukkan partner yang belum comply dan belum teruji. Semuanya sudah teruji,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Senin (28/4/2025) sore.

Bahlil menekankan bahwa pemerintah tidak terpaku pada negara asal investor. “Kita sekarang tidak menghitung mau China, mau Arab, mau Eropa, mau Korea, yang mau ke Indonesia aku enggak membedakan,” tegasnya.

Baca Juga: Sangat Dinanti Perajin Genting di Lamongan Berharap Kebijakan Gentengisasi Prabowo Hidupkan Industri Lokal yang Hampir Mati Suri

Dengan derasnya arus investasi dari China di sektor hilirisasi tambang, terutama nikel dan potensi kebangkitan proyek DME, peta investasi asing di Indonesia diprediksi akan semakin didominasi oleh Negeri Panda. Hal ini membawa peluang besar bagi pengembangan industri dalam negeri dan hilirisasi sumber daya alam, namun juga memunculkan pertanyaan terkait diversifikasi investasi dan potensi ketergantungan ekonomi pada satu negara. Perkembangan selanjutnya dari investasi jumbo ini akan terus menjadi sorotan.