“Terima kasih atas keberanian media mengungkap ke publik. Kami sudah sering melaporkan ke manajemen, tapi tidak pernah ditanggapi,” tulis salah satu pegawai RSUD Mardi Waluyo dalam pesannya.
Pegawai tersebut bahkan menegaskan, mustahil manajemen tidak mengetahui praktik menyimpang yang disebut telah berlangsung bertahun-tahun.
Baca Juga: Pelatihan Tunas 3 TIDAR di Blitar, Gerindra Siapkan Pemimpin Muda Menuju 2029
“Omong kosong kalau dibilang tidak tahu. Lha wong karyawannya sendiri yang melaporkan, tapi tidak pernah direspons,” tulisnya dengan nada geram.
Seiring bergulirnya pemberitaan, pesan dukungan terus berdatangan. Nada yang muncul beragam, mulai dari harapan akan perubahan hingga kritik keras terhadap sikap manajemen rumah sakit.
Baca Juga: Ratusan Massa GPI Demo PN Blitar, Soroti Dugaan Rekayasa Hukum
“Perubahan itu memang pahit di awal. Kapan lagi kalau tidak sekarang. Selamat buat media, sukses selalu dan jaya,” tulis pegawai lainnya.
Tak sedikit pula yang menyoroti sikap manajemen yang dinilai defensif dan cenderung menutup-nutupi persoalan.
Baca Juga: Temui Kapolres Blitar Kota, PMII Blitar Bongkar Masalah Kriminalitas hingga Tambang Ilegal
“Kalau manajemen serius, tidak perlu cari bukti dari luar. Tinggal gali dari karyawan yang pernah melapor kasus pungli di ruang cuci darah. Tapi faktanya, laporan itu diabaikan. Begitu mencuat ke publik, baru semua ribut. Semakin ditutupi, justru satu per satu terbongkar. Pernyataan dewas yang orang baru itu malah blunder, sok tahu,” tulis pesan bernada ketus.
Banjirnya apresiasi dari internal rumah sakit ini justru memperkuat dugaan bahwa informasi awal berasal dari “orang dalam”, sebelum kemudian diperkuat oleh kesaksian keluarga korban yang mengaku mengalami langsung praktik pungli tersebut.
Namun di tengah derasnya dukungan, muncul pula pihak-pihak yang merasa terusik. Beberapa oknum anggota DPRD Kota Blitar disebut bereaksi keras dan meminta agar pemberitaan tersebut diklarifikasi, bahkan mendesak agar berita diturunkan.
“Jangan-jangan ini hanya oknum RSUD yang asal bicara dan memberi pernyataan tidak benar. Kalau terbukti tidak benar, berita itu harus di-take down,” tulis salah satu pesan yang diterima penulis.**












