“Ahad Pon pengajian umum kita gelar dengan berbagai acara. Di antaranya pembagian sayuran, bhakti sosial hingga pengobatan kesehatan gratis. Ini bentuk nyata pengabdian kami kepada umat dan para jamaah,” ujarnya.
Sudja’i juga menyinggung dinamika organisasi yang tengah terjadi. Ia menilai, perbedaan pendapat dalam NU adalah hal lumrah, namun budaya pecat-memecat bukanlah tradisi di tubuh organisasi tersebut.
Baca Juga: Tegakkan Kebenaran MWC Sutojayan Melawan! Konflik Internal NU Terang-Terangan
“Pembekuan dan pembentukan pengurus baru di MWC NU bukan budaya kita. Kecuali sudah habis masa bhakti, baru direorganisasi. Apa yang dilakukan oknum pengurus PC NU Kabupaten hanya memecah-belah umat yang kondisinya sudah solid. Sebab bila di tingkat MWC dibekukan, seluruh ranting juga bisa meminta hak yang sama,” tuturnya.
Senada, pengurus MWC Ahmad Dardiri menyayangkan tidak diresponsnya niat tabayun dari MWC Sutojayan kepada PCNU.
“Polemik ini harus segera diakhiri. Kita harus duduk bersama membahas kemajuan organisasi ke depan. Bukannya malah membekukan MWC, ini bentuk nyata arogansi dan memecah umat yang sudah solid di bawah,” tandas mantan wakil rakyat tersebut.
Pengajian umum tersebut juga dihadiri Camat Sutojayan, Arinal Huda. Mantan ajudan Bupati Blitar Hery Nugroho itu menyampaikan apresiasinya terhadap kekompakan jamaah dan kepedulian sosial yang ditunjukkan MWC Sutojayan.
Baca Juga: Beky Herdihansah Beber Strategi Besar KONI Blitar, Datangkan Pelatih Muaythai dari Thailand
“Ini patut kita banggakan. Hanya ada satu di Kabupaten Blitar yang memakai nama Masjid NU, ya di Sutojayan ini. Karena itu, kami mementingkan ibadah dan ukhuwah sesama jamaah. Kalau soal politik dan organisasi kami tidak faham. Apa yang dilakukan MWC Sutojayan, kami bersama Forpimcam mendukungnya, karena ini bentuk pengabdian terhadap umat,” ujarnya.
Di tengah dinamika organisasi yang terjadi, pengajian Ahad Pon di Sutojayan justru menjadi bukti bahwa soliditas jamaah di tingkat bawah tetap terjaga. Ibadah, kebersamaan, dan kepedulian sosial menjadi pesan kuat yang menggema dari Masjid NU Sutojayan.**












