Pukul 00:13 WIB, korban ke-40 berhasil ditarik keluar. Setelah itu, ritme penemuan jenazah seakan tak terhindarkan: Korban ke-41 pada 00:29 WIB, disusul korban ke-42 dan ke-43 dalam waktu kurang dari tiga menit. Malam itu, para petugas SAR bekerja dengan nyaris tanpa istirahat.
Mereka harus menggotong, memotong rangka besi, dan mengangkat puing secara manual, mengabaikan rasa lelah demi tugas kemanusiaan.
Baca Juga: Misteri Kematian Bocah di Sukabumi Dugaan Kekerasan Ibu Tiri Hingga Proses Hukum
“Proses demi proses dilakukan dengan hati-hati, mengingat banyaknya material bangunan yang masih menutupi area pencarian,” ujar Nanang.
Seringkali, alat berat harus dihentikan untuk memberi ruang bagi petugas yang menggunakan peralatan ekstrikasi—alat pemotong besi—demi faktor keselamatan semua yang terlibat. Tim harus berhati-hati, agar evakuasi tidak justru menimbulkan insiden baru.
Dini Hari di Tengah Puing
Menjelang subuh, kerja keras itu membuahkan hasil tragis. Korban ke-48 ditemukan pada pukul 02:37 WIB. Pukul 03:00 WIB, korban ke-49 menyusul. Puncak evakuasi dini hari itu terjadi pada pukul 03:24 WIB, ketika korban ke-50 berhasil dikeluarkan dari timbunan material.
Nanang kembali mengingatkan tantangan utama di lapangan: “Tim SAR perlu mengangkat puing-puing reruntuhan, memotong rangka-rangka, baru kemudian bisa mengevakuasi korban dari timbunan material.”
Setelah berhasil diangkat, setiap jenazah segera dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya untuk menjalani proses identifikasi oleh tim DVI Polda Jawa Timur. Di sana, keluarga korban menunggu dengan hati hancur, berharap kepastian atas nasib orang-orang terkasih mereka.
Dari temuan 20 jenazah terbaru ini, tragedi Ponpes Al-Khoziny mencatat total korban sebanyak 141 orang. Angka itu terbagi menjadi 104 orang selamat yang berhasil dievakuasi dengan susah payah, dan 37 orang lainnya telah meninggal dunia.
Kisah ini bukan hanya tentang angka, melainkan tentang duka kolektif yang mendalam dan pengorbanan tanpa batas para pahlawan kemanusiaan di Sidoarjo.












