Example floating
Example floating
BLITAR

Dari Menu Sayur Tewel hingga Bau Amis, SPPG WR. Supratman Kota Blitar Jadi Sorotan Serius

Prawoto Sadewo
×

Dari Menu Sayur Tewel hingga Bau Amis, SPPG WR. Supratman Kota Blitar Jadi Sorotan Serius

Sebarkan artikel ini

Ironisnya, pihak pengelola dapur SPPG tak dapat dikonfirmasi secara langsung. Salah seorang yang mengaku sebagai asisten lapangan menyebutkan bahwa kepala SPPG dan ahli gizi sedang mengikuti zoom meeting dengan pihak BGN. Alasan justru menambah kesan tertutupnya pengelolaan dapur yang seharusnya transparan, terlebih menyangkut konsumsi anak-anak.

Fakta lain yang tak kalah mengkhawatirkan, Dinas Kesehatan Kota Blitar mengungkapkan bahwa dapur SPPG tersebut hingga kini belum mengantongi Surat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Padahal, SLHS merupakan dokumen krusial yang menjadi bukti bahwa sebuah dapur atau penyedia makanan telah memenuhi standar kebersihan, sanitasi, serta keamanan pangan. Tanpa SLHS, operasional dapur patut dipertanyakan dan berpotensi membahayakan kesehatan penerima manfaat. “SLHS-nya masih proses sepertinya,” jawab Endang.

Baca Juga: HPN 2026, PWI Blitar Raya Bahas Potensi Jeratan KUHP bagi Insan Pers

Keberadaan tumpukan sampah dan bau amis yang dibiarkan tanpa penanganan serius berpotensi menjadi sumber penyakit. Kondisi tersebut dapat memicu berkembangnya bakteri, lalat, dan faktor penyakit lain yang berisiko mencemari makanan.

“Harusnya ada penutupnya, jangan dibiarkan menumpuk seperti itu. Kalau soal bau, pasti kan ada sumbernya. Kalau tidak ditangani dengan baik, bisa menimbulkan potensi penyakit,” pungkasnya.

Baca Juga: Puting Beliung Terjang Lima Desa di Sanankulon, 38 Rumah Rusak, Camat Gugup Pastikan Penanganan Cepat

Kasus ini memunculkan pertanyaan besar: bagaimana mungkin program yang digadang-gadang untuk meningkatkan kualitas gizi justru dijalankan dengan menu seadanya, lingkungan dapur yang memprihatinkan, serta tanpa kelengkapan izin sanitasi?

Jika tidak segera dievaluasi dan ditindak tegas, SPPG Jalan WR Supratman dikhawatirkan bukan menjadi solusi, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan anak-anak di Kota Blitar. **

Baca Juga: Safari Ramadan NasDem di Blitar, Saan Mustopa Serukan Persatuan di Pusara Bung Karno